04 August 2017

Brave Chronicle - Interlude 1

Sengaja kasih ini, banyak yg copas--
http://setiakun.blogspot.com
Jangan yg lain tetap di sb translation

INTERLUDE
DI MALAM SAAT TAKDIR BERTENTANGAN

Aku melihat mimpi – mimpi yang selalu berakhir dengan satu kalimat tertentu.

Aku akan membunuhmu.

Haus darah sehitam tinta. Rasanya itu akan menelan seluruh pikiranku.


Hari ini adalah hari terbaik yang pernah ada, pikirku, saat aku terbangun dan menatap apa yang ditinggalkan bantalku.

Video game populer dan sebilah pedang. Saat itu tanggal 25 Desember, pagi natal. Persenjataan bintang dan video game. Santa... eh, ayah pasti sudah menempatkannya disana saat aku sedang tidur.

Tentu saja, aku tahu bahwa Santa Claus adalah ayah sepanjang waktu. Lagi pula, umurku sudah enam tahun. Ayah telah bertindak begitu gelisah, bertanya padaku tentang hal-hal apa saja yang populer di kalangan anak-anak akhir-akhir ini, dan semua iklan game dan mainan yang telah dia baca cukup banyak memberikannya.

Aku tidak akan bisa mengetahuinya seandainya berusia lima tahun, tapi sekarang aku berusia enam tahun yang tumbuh dewasa, seorang senior di dunia taman kanak-kanak. Towa berusia lima tahun mungkin masih percaya bahwa Santa itu nyata, tapi sebagai kakaknya dan seniornya, aku tidak akan menghancurkan mimpinya.

Pertama, aku mengambil game. Aku telah memberi tahu ayah tentang bagaimana game itu sangat populer bagi semua teman sekelasku. Aku tidak sabar untuk memainkannya. Aku sangat ingin itu agar aku bisa membual kepada teman-temanku.

Tapi itu harus menunggu. Hadiah sebenarnya sedang diam tepat di sebelahnya... Pedang. Bicara tentang Santa yang murah hati – bukan satu, tapi dua hadiah. Ayah mungkin menganggap pedang itu sebagai hadiah sungguhan, tapi dia juga cukup baik untuk memberiku apa yang kuinginkan juga. Aku akan lebih dari senang dengan hanya pedang, dan merasa benar-benar berterima kasih kepada Santa penolongku – er, ayah. Memegangnya, aku bisa merasakan bobot persenjataan bintang pelatihan permanen, dan mengirimnya terima kasihku secara mental.

Terima kasih Ayah... Aku harus berterima kasih lagi nanti. Oh tidak, tunggu, aku tidak bisa membiarkan dia tahu aku sudah tahu dia benar-benar Santa.

"Lihat, kakak! Lihat, lihat!"

Tiba-tiba, pintuku terbuka, dan ada makhluk hitam pekat masuk. Untuk suatu alasan, suaranya terdengar seperti adikku.

"Wah..." Aku hampir mengayunkan pedang baruku ke udara. Tapi sebelum aku bisa melakukannya, aku menyadari bahwa benda hitam itu adalah boneka binatang... dan yang jelek, pada saat itu. Apa itu? Anjing? Beruang?

"Towa, ada apa?"

"Lihat! Apa kau melihatnya?!" Towa mengintip dari balik hewan boneka yang sangat jelek itu.

"Ya, aku bisa melihatnya. Itu sangat besar..." Itu tidak sebesar dia, tapi sudah dekat.

"Bukankah ini besar? Dan imut?"

"Y-ya... Sangat imut."

Imut? Beneran?

"Apa menurutmu itu sepertimu?"

"Uhh...?"

Aku memiringkan kepalaku dan menatap benda hitam yang sangat besar itu sekali lagi. Sejujurnya aku tidak tahu apa itu, tapi sepertinya menyipitkan mata seolah-olah sudah capek atau marah, dan wajahnya tidak terlihat imut sedikit pun. Namun dia bilang itu tampak sepertiku. Jika memang benar, maka itu agak menyedihkan.

"Kau benar, itu benar-benar terlihat persis sepertiku. Itu sama tampannya!"

"Ya! Santa sungguh memiliki selera yang bagus!"

"Tentu saja."

Aku menatap hewan brengsek berwajah boneka itu. Ibu pasti sudah memilihnya. Seleranya selalu sedikit... mati. Dan Towa persis seperti dia, jadi tak heran dia menyukainya.

"Aku akan pergi menunjukkan Ibu dan Ayah!" Towa berteriak, saat dia berlari keluar ruangan.

"Kau akan membawa benda besar itu bersamamu? Jangan terpeleset dan jatuh!"

"Tidak akan!" Balas Towa dengan riang. Aku masih merasa sedikit khawatir, jadi aku mengejarnya.

Kupikir ibu dan ayah juga akan ada di meja, dan aku perlu memberi tahu mereka bahwa aku bersyukur atas apa yang telah Santa bawa kepadaku.

"Selamat pagi, Kokuya. Apa kau dapat kunjungan dari Santa?" Begitu ayah melihatku, dia tersenyum dan menanyakan pertanyaan itu padaku. Dia benar-benar bermain bodoh.

"Pagi. Ya tentu! Lain kali Ayah melihat Santa, katakan padanya dia yang terbaik, dan beri dia ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya!"

"Oh, bagus, aku senang. Baiklah, aku akan memberitahunya. Aku yakin dia akan senang mendengarnya. Kau adalah anak yang baik sepanjang tahun, jadi aku tidak terkejut."

"Benarkah?"

"Dan sepertinya kau sudah bekerja keras dalam pelatihan akhir-akhir ini."

"Kurasa. Tapi aku masih harus menempuh perjalanan jauh. Oh ya, sekarang! Aku ingin mencobanya, jadi bisakah Ayah membantuku berlatih?"

"Hmm. Ibu dan Ayah harus pergi ke lab... Jadi kurasa kita bisa melakukannya di tempat biasa."

Ayah dan ibu adalah peneliti penyihir bintang. Ibu memusatkan perhatian pada penelitian ini, sementara ayah melakukan penelitian bersamaan dengan menguji persenjataan bintang baru yang mereka buat. Dia sangat kuat. Dan dia mengajariku bahwa para penyihir bertempur untuk melindungi dunia dan semua orang di dalamnya.

Rasanya ayah telah mengajariku lebih dari itu juga... Pada dasarnya, penyihir bintang itu keren, kuat, mengagumkan, dan persis seperti yang kuinginkan. Aku ingin menjadi penyihir bintang kelas atas, sama seperti ayah.

"Apa kau juga mau ikut ke laboratorium, Kokuya? Kita harus membawa kue dan mengadakan pesta disana," Kata ibu.

"Hah? Ada kue?"

"Yah, ini Natal. Aku memastikan untuk mendapatkan yang besar!"

"Yaaay! Kue!" Towa bersorak dengan suara kekanak-kanakan. Sejujurnya, aku ingin melakukan hal yang sama.

"Apa boleh membawa Towa ke lab?"

"Kupikir sudah saatnya kita mengukur kekuatan bintangnya."

"Oh, benar. Dia akan masuk SD tahun depan, kan?"

Anak-anak yang ingin menjadi penyihir bintang semuanya harus diukur potensinya sebelum mereka berusia enam tahun. Aku juga, tapi...

"Saat Ayah melihat hasilnya, Kokuya, Ayah hampir terjatuh dari kursi," Kata ayah.

"Diam! Ini hanya potensial. Bukan berarti sesuatu. Aku sudah memutuskan bahwa aku akan menjadi penyihir bintang tidak peduli apa pun."

"Itulah semangat!"

Aku tidak memiliki potensi penyihir bintang. Mereka pun bilang bahwa karena kekurangan kritis tertentu, mungkin aku tidak akan bisa menjadi penyihir bintang sama sekali.

"Selain itu, kita semua pada dasarnya sama dengan Yukigane. Aku tidak khawatir. Aku hanya ingin mewarisi kekuatanmu, Ayah."

"Yah begitulah... Baik. Jika itu jalan yang telah kau putuskan, maka itu tidak masalah bagiku."

Keluarga Yukigane adalah keluarga penyihir bintang yang sangat terkenal. Mereka memiliki anak perempuan yang seumuran diriku, namun dia sudah lebih kuat dari setiap penyihir bintang dewasa.

...Aku mungkin tidak bisa mengalahkannya sekarang, tapi suatu hari nanti aku akan melakukannya. Meskipun aku belum pernah benar-benar bertemu dengannya... Kalau dia benar-benar kuat, maka pada akhirnya aku yakin aku akan bertemu dengannya.


"Ayah rasa itu sudah cukup untuk hari ini."

"...Aku belum... selesai..." Aku mencoba terdengar keras saat aku berbaring telungkup di tanah. Aku pun tidak yakin berapa banyak lagi aku bisa mengayunkan persenjataan bintang baru di tangan kananku.

Kami berada di laboratorium tempat orangtuaku bekerja. Ini adalah salah satu ruangan tempat mereka menguji persenjataan bintang baru.

"Kita bisa terus lanjut, tapi ingat, kita harus menghadiri pesta. Towa mungkin marah kalau kau muncul seperti mie basah."

"Hmm... Baiklah, ayo kita berhenti disini."

"Ya."

"...Hai Ayah."

"Apa?"

Aku mengangkat tubuhku yang sudah kelelahan dan menatap pedangku. "Apakah aku benar-benar bisa menjadi penyihir bintang seperti Ayah?"

"...Tentu. Aku yakin kau bahkan bisa mengungguli Ayah."

"Sungguh?"

"Ayah tidak akan berbohong padamu. Aku yakin," Kata ayah sambil tersenyum. "Itu tidak akan terjadi sebentar." Dan dengan itu, dia berdiri dan meninggalkan ruangan. Dia telah melakukan banyak latihan sepertiku, namun sama sekali tidak terlihat lelah.

"Hei tunggu!" Teriakku, saat aku mengejar bayangannya yang panjang.


"Itu harus dilakukan. Sekarang untuk kuenya."

"...Bisakah aku makan satu potong saja?" Aku mengulurkan tanganku ke arah sepotong besar ayam goreng yang berbaris dengan sisa makanan.

"Tunggu sebentar lagi. Aku akan memenggil Towa dan ibumu."

"Aku akan pergi bersama Ayah."

"Mereka pasti dekat..." Katanya, saat kami melintasi laboratorium bersama.

Tidak ada orang lain di dalam. Orangtuaku bertanggung jawab atas blok ini dan biasanya bekerja disini dengan bawahan mereka, tapi karena ini adalah hari libur, kami adalah satu-satunya yang hadir.

"...Itu aneh." Ayah tiba-tiba berhenti.

"Apanya?"

"Kokuya, tunggu sebentar."

"...Hah? Kenapa? Apa yang sedang terjadi?"

"Tunggu saja disini Aku akan segera kembali!" Katanya sambil berlari menyusuri lorong.

Dia berlari sangat cepat, tidak mungkin aku bisa menyusul. Apa yang membuatnya panik tiba-tiba? Aku berdiri disana sebentar, disiksa dengan ketidakberdayaan dan ketakutan.

Towa dan ibu seharusnya berada di ruangan tempat aku mendapatkan kekuatan bintangku yang diukur tadi. Kupikir pasti tempat ayah pergi, jadi aku memutuskan untuk mengejarnya – tapi sebelum aku melakukannya, aku berbalik dan kembali untuk mengambil pedang baruku. Aku mulai merasa tidak enak, jadi aku menginginkan sebuah senjata untuk berjaga-jaga.

Aku meraih pedangku dan berlari... dan berlari... dan... lalu, aku melihatnya.

Ibuku ada di tanah, berlumuran darah. Berdiri di ruangan itu ada dua pria yang belum pernah kulihat sebelumnya. Mereka berdua memiliki pedang, yang salah satunya tertutup darah merah – darah ibuku.

Ayah mengacungkan pedangnya sendiri ke arah kedua pria itu, tapi dia sudah ditutupi luka-luka. Towa meringkuk di lantai di belakangnya. Ruangan itu remang-remang, dan satu-satunya sumber penerangan adalah cahaya bulan yang masuk melalui langit-langit.

Itu sangat mendadak, aku pun tidak bisa memprosesnya. Yang kutahu adalah bahwa orang-orang yang dilawan ayah adalah orang jahat, dan aku perlu melindunginya dan Towa.

Tiba-tiba, aku berlari ke arah orang-orang dengan pedangku terangkat tinggi.

"Kembali, dasar idiot!" Teriak ayah

Pria satunya melangkah di depan yang kutuju dan mengayunkan bilahnya, yang cukup untuk menghempaskanku ke sisi lain ruangan. Punggungku membanting sesuatu yang keras, dan aku mengeluh karena sakit. Bersamaan, aku mendengar 'denting' berongga saat pedangku jatuh ke tanah.

...Tapi itu bukan satu-satunya yang menyentuh tanah. Di sebelah pedangku, aku melihat lengan kanan yang terputus. Lengan itu... Begitu aku menyadari itu milikku, rasa sakit yang luar biasa menyelimuti bahu kananku. Lalu, sebelum aku bisa berteriak, sesuatu yang lebih mengejutkan lagi terjadi.

Sebilah pedang menusuk ayahku.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi di hadapanku. Apa... apaan ini?

Pria itu menarik pedangnya dari tubuh ayah. Ada percikan darah yang baru ditarik, diikuti oleh sungai merah yang sangat tebal. Ayah jatuh ke kolam merah, tepat di sebelah ibu.

Kemudian, pria itu mengalihkan pandangannya pada Towa. Tanpa memikirkannya lagi, aku mengambil pedangku dengan tangan kiriku dan mencoba berlari di depannya. Tapi aku segera kehilangan keseimbangan dan terjatuh kembali ke tanah dengan suara berdebar menyedihkan.

"K-kakak..." Suara gemetar Towa keluar dari belakangku.

"Tidak masalah. Tidak masalah..." Kataku, tanpa keyakinan di dalam suaraku.

Towa menyentuh tangan kiriku – dan tiba-tiba, aku merasakan kekuatan yang sangat besar di belakangku.

Huh? Apa yang terjadi? Aku bisa merasakan kekuatan bintang yang jauh lebih besar daripada yang pernah ditunjukkan ayah di belakangku. Aku berbalik dan tidak melihat apa-apa selain Towa – dan lengan palsu buatan yang telah terwujud menggantikan yang telah hilang.

Aku menatap lengan kanan baruku dan mencoba menggerakkan tanganku. Ini berhasil. Ketika aku mengepalkan tangan kananku menjadi sebuah kepalan tangan, aku bisa merasakan kekuatan luar biasa mengalir melaluiku.

Itu akan berhasil. Aku bisa membunuh mereka dengan ini. Pada saat pikiran itu terpikir olehku, aku mendengar sebuah suara bergema di kepalaku.

Bunuh.

Itu terus menjadi lebih keras, sampai aku tidak bisa memikirkan hal lain. Aku menatap pria yang baru saja membunuh ayahku. Aku punya dua musuh. Apakah pria yang membunuh Ayah juga membunuh Ibu? Mungkin bukan masalah. Aku akan membunuh keduanya. Tapi aku akan mulai dengan orang yang membunuh Ayah, karena dia tepat di depanku.

Hawa nafsu itu menghabiskan segalanya.
Brave Chronicle - Interlude 1

Diposkan Oleh: setia kun

0 Komentar:

Post a Comment