12 August 2016

The Hero and The Swamp Girl

Sengaja kasih ini, banyak yg copas--
http://setiakun.blogspot.com
Jangan yg lain tetap di sb translation

Pahlawan dan Gadis Rawa

Swamp 1

Ada rawa yang terletak di tengah hutan, selama di sore hari, para warga bisa mendengarkan teriakan burung hantu; bahkan selama tengah hari, tidak ada sinar mentari mampu menembus atmosfer keruh dan gelap di sekitar hutan. Ditakuti oleh penduduk kota sebagai "Rawa di mana monster datang", rawa ini adalah tempat para warga jarang mendekati.

Nah, duh.

Sebuah rawa menakutkan seperti itu hanyalah memberikan atmosfer yang aneh. Selain itu, bahkan sebelum memasuki rawa, hutan di sekitarnya itu sangat subur dan lebat. Terlepas dari bagaimana cuacanya, cahaya tidak pernah masuk. Bahkan, itu seperti seluruh hutan menolak cahaya matahari. Terletak di belakang sebuah kota mewah, hutan yang luas dikhawatirkan oleh warga kota karena kelihatannya menyembunyikan sepotong kegelapan di dalamnya.

Tapi aku tahu.

Di hutan ini, yang terletak di belakang kota familiar di mana aku lahir dan dibesarkan. Rawa yang para warga takuti dan tidak pernah didekati sebenarnya...

Lokasi memancing sempurna.

★☆

"Dapat! Yang ketiga!"

Memegang pancingan buatan tanganku di satu tangan dan ikan baru tertangkap di sisi lain, aku membuat pose bernyali.

Sebenarnya, di rawa ini, kau bisa menangkap ikan yang bagus. Ikan berwarna-warni misalnya warna biru muda, merah muda, dan bahkan neon kuning. Meskipun warna ikan itu benar-benar mencolok, untuk ikan hidup di rawa-rawa, mereka tidak memiliki bau berlumpur dan rasanya lezat sekali. Kau tidak bisa berhenti makan setelah menggigitnya! Kau tidak bisa berhenti! Seperti Calbee!

Selain itu, ketika aku membawanya ke pasar kota, ikan dijual dengan sangat baik. Meskipun ikan-ikan tersebut memiliki penampilan yang berwarna-warni, rasanya adiktif, membiarkan aku menjualnya dengan harga tinggi. Bukan hanya hobi sederhana, [ikan] ini adalah hobi dengan manfaat praktis yang berfungsi sebagai saranaku untuk hidup.

Memancing menyenangkan! Menjual [ikan] menguntungkan!

Ini seperti membunuh dua burung dengan satu batu. Sungguh memuaskan hobi dan bekerja! Aku mengakui bahwa memancing adalah hobi suram bagi seorang gadis 18 tahun. Tapi, dari apa yang kudengar dari teman-teman perempuanku di kota, hobi populer bagi mereka adalah membuat renda dan bordir. Untuk orang seperti aku yang tidak bagus dengan tugas-tugas rincian kecil seperti itu, itu hobi mustahil. Daripada membuat renda, aku lebih cocok merajut tikar. Karena sifatku dan kurangnya teman yang berbagi minat yang sama, aku selalu pergi memancing sendirian.

Yah, itu sebenarnya rahasia dari teman-temanku juga bahwa aku datang ke rawa ini. Semua teman-temanku percaya bahwa ikan itu dari sungai yang mengalir ke arah Barat Daya dari kota.

Untuk beberapa alasan, rawa ini selalu ditakuti oleh warga kota. Nah, mengingat lokasinya, kukira itu tidak dapat membantu.

Tapi, dari usia muda, aku selalu datang untuk bermain di sini. Diam-diam, dengan tujuan eksplorasi sendirian, aku sering datang ke sini. Itu sebabnya, ketika mereka mengatakan "Itu menakutkan" atau "Monster akan muncul", itu benar-benar tidak masuk di kepalaku. Bahkan, aku belum pernah melihat satu pun monster.

Semua yang ada di sini adalah rawa menakutkan. Karena aku sudah nongkrong di rawa ini dari usia muda, bahkan suasana keruh gelap terasa nyaman dan santai denganku. Suasana gelap dan suram ini berjalan tanpa mengatakan bahwa itu adalah suasana menghibur.

Dengan cacing tanah aku menggali lebih awal pagi ini, aku mengguncang pancinganku dengan antusias.

★☆★

Hari ini adalah tangkapan besar. Uheehee. Puas dengan memancingku, aku menuju rumah dengan ikan yang kutangkap. Sementara dalam perjalanan, aku melihat bahwa kota itu penuh dengan lebih banyak orang dan lebih hidup dari biasanya.

Ada apa dengan orang ini? Karena ada lebih banyak orang daripada biasanya, menghindari mereka sambil berjalan adalah menjengkelkan sekali. Sementara bertanya-tanya atas keanehan kerumunan ini, aku bertemu dengan sekelompok gadis-gadis kota bersemangat tinggi.

"Cepat-cepat! Mereka hampir di sini!"

"Hanya satu tampilan saja, aku harus melihat! Yuusha-sama!"

Tampaknya pahlawan dan party-nya akan datang.

Untuk menjelaskan secara sederhana, ada beberapa orang di dunia yang disebut pahlawan. Tidak sembarang orang bisa menjadi pahlawan. Jika Royal Palace tidak mengakui seseorang untuk menjadi pahlawan, orang itu tidak bisa menyebut diri pahlawan. Aku ingin tahu apakah, di Royal Palace, ada Ujian Pahlawan? Karena aku tidak punya minat sama sekali, aku benar-benar tak tahu. Pokoknya, para pahlawan disetujui kemudian pergi membentuk party dan bekerja keras untuk melawan monster demi perdamaian dunia, kurasa. Dan, di antara para pahlawan ini, ada sistem peringkat.

Sebagai contoh,

S Rank ~ Pahlawan Hebat
A Rank ~ Pahlawan Lumayan-Hebat
B Rank ~ Pahlawan Rata-rata
C Rank ~ Pahlawan Baru
D Rank ~ Pahlawan Memploklamirkan-Diri

...Adalah bagaimana aku secara pribadi menamai peringkatnya jika diizinkan. Pokoknya, ada sistem peringkat. Aku benar-benar tak tahu rincian peringkatnya tapi pahlawan D-Rank yang paling banyak ada. ...Lebih seperti, mereka bahkan pahlawan!? Juga, hanya diberi wewenang untuk menjadi pahlawan adalah hal yang besar, menurut pendapatku, tetapi ada pahlawan yang bahkan lebih tinggi dan diberi nama sebagai SS-Rank. Wow.

Melirik ke arah para warga yang bergegas menuju pintu masuk kota, aku melewati terhadap gelombang manusia dan menuju ke rumahku. Hanya satu tatapan? Tidak mungkin, tidak mungkin. Aku tidak punya perasaan begini. Daripada itu, aku harus buru-buru dan menjual ikan yang aku tangkap! Kesegaran adalah hal yang paling penting untuk ikan yang tertangkap ini. Dengan perasaan itu, aku mendesak menuju rumah.



Swamp 2

Mari hari ini juga jadi memancing bahagia~♪

Sambil memegang pancinganku di satu tangan dan bergegas ke rawa, aku dengan senang hati bersenandung sendiri dengan melodi sindiri. Kemarin, seluruh kota dalam suasana hati meriah "Selamat Datang Pahlawan". Karena itu, kota itu sendiri adalah jauh lebih hidup dari biasanya dan ikan yang kutangkap dijual sangat baik. Itulah "Yuusha-sama"-sama.  Menurut rumor, palawan dan party-nya masih akan tinggal di kota sedikit lebih lama. Toh, mari kita pergi memancing hari ini juga dan kemudian menjual banyak! Sekarang adalah waktu keuntungan yang ideal! Dengan pancingan di tangan, aku menuju lebih dalam ke hutan dengan antusias.

Lalu, bersenandung saat aku berjalan lebih dalam ke hutan, lingkunganku tiba-tiba melintas dan seluruh hutan ditutupi cahaya. Pada saat yang sama, sebuah ledakan besar terdengar di seluruh hutan. Sebagai hasilnya, aku jatuh ke belakang dengan pantatku duluan.

Apa!? Apa yang terjadi?

Burung-burung yang telah beristirahat di pepohonan terbang sekaligus, menciptakan atmosfer yang aneh. Didasarkan dari tanda-tanda ini, pasti ada ledakan besar di suatu tempat. Tapi di mana?

Jujur saja, aku takut. Tapi, aku harus memastikan...! Entah bagaimana bisa untuk bangun dengan kaki gemetar, aku menuju ke mana aku telah mendengar asal ledakan itu, menuju ke arah mana rawa itu.

★☆

Karena tidak menyadari bahwa aku telah berjalan cepat, aku mulai bernapas berat. Meskipun hatiku balapan, aku harus memastikan sebelum aku pulang.

Melewati pepohonan, aku tiba di tempat tujuanku. Segera setelah aku tiba, aku merasakan rasa ketidaknyamanan.

Ada berdiri di rekan-rekan party cantik dan tampan.

—Kenapa? Kenapa mereka di sini?

Sementara mataku melebar karena aku mempertanyakan diriku, rekan-rekan party cantik dan tampan tampaknya melihat kehadiranku. Mengajukan pertanyaan padaku, pria paling tampan nomor satu di party mulai menuju ke arahku.

"Ada apa? Kau tersesat? Rawa ini berbahaya jadi lebih baik jika kau tidak mendekati tempat ini."

Tidak tidak tidak, bukan, tidakkah kalian lebih berbahaya? Ini adalah rawa yang ditemukan di bagian yang lebih dalam dari hutan di mana monster dikatakan berada, tahu? Sebuah tempat di mana orang-orang jarang datang, tempat memancing sempurna... tidak, tempat yang berbahaya, tahu?

Sementara aku menatap pria tampan mendekati dan berbicara denganku, aku menyadari. Orang belakang mendekatiku, rawa biasa itu... lokasi memancingku... tempat relaksasiku, rawa, itu...

Menghilang.

Umm yeah, ada puing-puing dan lubang raksasa dengan asap yang keluar dari berbagai tempat yang menunjukkan di mana ledakan itu memusnahkan rawa.

Tercengang, aku menatap tempat rawa itu. Identitas rasa ketidaknyamanan yang sebelumnya kurasakan adalah ini!

"I-i... Itu ... Itu ra... rawa itu..."

Dengan jari gemetar, aku menunjuk lubang raksasa di mana rawa dulu, berusaha keras untuk membentuk kata-kata. Pria tampan mengangguk dengan ekspresi lemah lembut dan berkata:

"Rawa di sini adalah tempat yang berbahaya di mana monster berkumpul jadi kami menerima permintaan dari walikota kota. Kami memusnahkan rawa."

"Ho......"

Tidak dapat menanggapi, aku dipukul dengan pukulan terakhir.

"Tapi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kami benar-benar sudah memusnahkan rawa."

Seolah-olah ia mencoba untuk meyakinkanku, pria tampan berbicara dengan kata-kata lembut dan tersenyum berkilau. Melihat senyum itu, aku:

"Bagaimana kau akan membuat ini--!? Tempat memancingku--! Tempat relaksasi dan hobiku--! Sumber pendapatanku--!"

Sama seperti itu, bersama dengan perasaan menggelegak dan momentum menggenggam, aku mencelanya.

★☆★

"Dengan kata lain, kau bilang bahwa kau sering datang ke rawa ini?"

Sementara mengangguk dan berteriak, aku membicarakan situasinya dengan salah satu anggota party, seorang mirip penyihir memakai jubah hitam.

"Ya! Aku tidak pernah bertemu monster sehingga walikota pasti sudah salah paham!"

Mungkin dikuasai oleh energiku, dia tidak menanggapi kembali dan diam-diam mengamatiku.

"Tapi, meskipun itu yang kau bilang..."

Sambil garuk-garuk wajahnya, pria mirip penyihir mengatakan:

"Bahkan, kami diberi permintaan ini didasarkan dari kesaksian saksi sungguhan..."

Si mirip penyihir dilewati onii-san yang mulai memberikan penjelasan, pria tampan sebelumnya melangkah maju. Dengan rambut emasnya dan mata hijau, gerakannya agak elegan dan, dengan lembut, seolah-olah beralasan denganku, dia mulai berbicara.

"Kami diminta oleh walikota. Di rawa ini ada gadis rawa menakutkan atau begitulah."

"Gadis rawa?"

"Ya, gadis rawa."

"......Aku belum pernah melihatnya."

Sejak aku lahir, aku belum pernah melihatnya di rawa familiar dan terbiasa ini.

"Menurut catatan walikota, dia suka hujan dan muncul ketika hujan. Beberapa hari sebelumnya, dari tepi rawa, traveler mengembara melihat gadis rawa merah menari gila."

"Hah? Gadis... merah...?"

"Ya. Seminggu yang lalu, ia menyaksikan dirinya, merah dari kepala sampai kaki, sungguh-sungguh menari gila seakan mengorbankan jiwanya untuk setan."



…seminggu yang lalu.

Aku mem-flashback untuk saat tertentu. Ya, itu satu minggu yang lalu, pada hari gerimis hujan kecil. Aku tidak bisa berdiri terkurung di dalam rumah jadi aku pergi ke rawa menangkap ikan. Dan kemudian, aku berakhir dengan menangkap lebih besar dari yang diharapkan sehingga, dari kegembiraan dan kesenangan, aku merayakan sendirian.

Sementara memakai jas hujan... merah... dan panjang...

"Melihatnya sangat mengalihkan bagian atas tubuhnya ke arah belakang sementara menari gila adalah gambaran dari monster menghebohkan, dia bilang..."

Mungkin, mereka mengacu pada "Tarian Tangkapan Besar"-ku... Setiap kali menangkap ikan besar, aku menjadi menari liar "Tarian Tangkapan Besar"-ku, nama yang sewenang-wenang kuputuskan untuk setiap kali aku mengikat pancinganku antara dua pohon dan tarian limbo.

Aku ingin tahu apakah mereka sedang membicarakanku ketika aku mengenakan jas hujan merah dan menari limbo penuh perhatian... Mengenai gadis rawa...

"Selain itu, warga kota biasanya menemukan rawa menyeramkan dan menghindarinya sehingga kami mengambil kesempatan untuk menghilangkannya."

Hei sekarang, kau hanya berkata "kita menghilangkannya" dengan santai tapi sekarang apa yang akan kulakukan, setelah kau begitu tiba-tiba mencurinya dariku?

Dengan syok, aku duduk terpaku ke tanah selagi anggota party yang bermasalah mengelilingiku. Saat aku duduk di tanah, berteriak keras, tampan pria berambut emas dari sebelumnya berlutut dan menatapku dengan ekspresi yang bermasalah. Lalu:

"Maafkan aku. Aku tidak berpikir itu akan menyebabkan begitu banyak penderitaan bagimu. Dari sudut pandang warga kota ini, mungkin rawa itu menyeramkan tapi, untukmu, pasti tempat penting. Bagiku yang telah memusnahkan tempat itu."

Sudah kuduga, orang yang memusnahkan itu kalian...! Kau yang sangat bersalah!

"Aku, Rufus Gran, meminta maaf dan akan mencoba yang terbaik untuk menebus kesalahan. Aku bersumpah dengan gelarku sebagai pahlawan."

Pahlawan? Apa itu? Lebih dari itu, Rufus Gran?

Rasanya aku sudah mendengar nama itu sebelumnya di suatu tempat, aku merenungkan dengan panik di kepalaku. Rufus Gran... Gran...? Gran...!? Seperti teka-teki dalam pikiranku akhirnya terpecahkan sendiri, aku merasakan dorongan untuk berteriak keras-keras. Gran adalah nama dari negara tetangga. Di negara Gran, pangeran ketiga, aku percaya, adalah pahlawan... Belum lagi, bahkan di antara pahlawan, ia adalah seorang SS-Rank dengan keterampilan unggul...

Aku berpikir kembali ke gosip kota.

Bahkan di dalam hutan yang gelap, rambut emasnya bersinar seolah diberkati oleh cahaya. Matanya tampak mengekspresikan kehijauan segar pohon dengan warna biru. Tinggi dan bentuk tubuh, ia memiliki tubuh yang proporsional dengan tidak ada kelebihan daging atau lemak. Meskipun seorang pangeran, demi perdamaian manusia, ia menjadi pahlawan; orang yang sangat penyayang dan baik hati.

Di kota, penjualan "Pahlawan Bromida"-nya nomor #1! Setiap tahun, peringkat di "Aku ingin dipeluk pahalawan", dia nomor #1!

Tapi, aku yang saat ini:

Itu. Bukanlah. Masalah!!



"Bodoh--! Jamin hidup masa depanku dari sekarang! Bagaimana kau akan menebus semua ini!? Bodoh--! Kau tidak berguna! Pusar ibumu bo-dong!"

Dengan tampilan yang parah, aku memelototi orang di depanku dan berteriak. Sementara berpikir bahwa itu adalah kalimat yang sangat kekanak-kanakan juga.



Swamp 3

"………yang terburuk."

Keesokan paginya, itu adalah hal pertama yang kukatakan ketika aku terbangun di tempat tidurku sendiri.

Apanya "yang terburuk", kau bilang?

Jawabannya jelas yakni fakta bahwa kenikmatan harianku, lokasi memancingku dirampok. Jika bisa, aku berharap itu hanya akan menjadi mimpi tapi, sekarang aku terjaga, aku menyadari bahwa itu pasti bukan mimpi. Bahkan jika kota ini dalam suasana hati "Yay Pahlawan", secara pribadi, aku pada suasana hati "Sialan kau, pahlawan".

Memasuki dapurku, aku mengisi cangkir dengan air dan meminumnya, memuaskan tenggorokan keringku saat mengambil napas.

ー Aku mengerti.

ー Sejujurnya, aku hanya mengeluarkan amarahku kepadanya.

Pihak pahlawan, secara kebetulan, mungkin mampir dan disambut ke kota ini dan, setelah mendengar walikota dan masalah penduduk kota ini, ditawarkan untuk menghancurkan rawa dari kebaikan hati mereka atau sesuatu seperti itu. Toh, rawa itu diperlakukan sebagai rawa menyeramkan sedari awal. Itulah mengapa ini benar-benar amarah sesatku.

"Memangnya aku peduli kalau kau memancing di rawa itu!" "Kalau kau mengeluh, pergi beri tahu walikota!"

Awalnya, itu tidak akan aneh untuk pahlawan membuang kalimat tersebut padaku, tapi, sebaliknya, ia melakukan hal yang dewasa dan hanya mengeluarkan pelecehan verbalku. Tidak hanya itu, ia juga meminta maaf kepadaku dari lubuk hatinya. Didasarkan dari hanya itu, Pahlawan Rufus adalah, seperti yang diharapkan, hanya saja apa yang dikatakan rumor dia: seorang gentleman.

Tapi, untukku dengan hati kecil, jika mungkin, aku benar-benar tidak ingin bertemu dia lagi.

Dan, seperti itu, aku keluar dari rumahku. Tujuanku adalah tempat biasa. Tapi, tidak seperti biasa, aku tidak membawa pancinganku kali ini.

★☆

"...Sudah kuduga, itu tidak bagus..."

Tidak dapat menyembunyikan kekecewaanku, aku tertekan. Aku berada di tempat di mana rawa... dulu, di bagian dalam hutan. Saat ini, itu adalah sebuah lubang besar.

Aku telah memegang harapan optimis bahwa mungkin aku, setelah tidur selama satu malam, rawa ini mungkin hidup kembali. Makanya, aku datang untuk memeriksa, tapi dunia tidak menyenangkan. Lubang itu terbuka lebar seperti tidak pernah ada rawa di sana. Sementara hatiku juga merasakan rasa kehilangan seperti lubang telah terbuka, aku merasakan kehadiran tiba-tiba seseorang menyelinap dari belakangku. Setelah berbalik, aku melihat bahwa itu adalah Pahlawan Rufus yang kemarin.

Ke—Kenapa?

Sementara aku panik, pahlawan itu mendekatiku dan membuat wajah lega.

"Syukurlah, kita bertemu lagi."

"Hah…? Haah...?"

Sebaliknya pahlawan itu selangkah demi langkah lebih dekat, aku mundur darinya.

"Setelah itu, kau lari begitu saja..."

Hahahaha. Sekarang aku memikirkan hal itu, kemarin, aku lari segera setelah aku selesai sepihak menyalahkan dia secara verbal. Belum lagi, baris terakhir yang kukatakan adalah "pusar Ibumu bodong" ...kalimat yang kekanak-kanakan.

"Seharusnya aku segera mengejarmu tapi... karena dampak itu..."

Kemudian, didepanku, pahlawan itu berlutut satu kaki dan menatapku dari bawah. Mata hijau segarnya yang berkilau. Aku punya perasaan bahwa matanya bersinar dengan kegembiraan hidup, benar-benar kebalikan dari hutan yang gelap ini.

"Kau bilang kemarin, bukan? 'Jamin gaya hidup masa depanku sekarang ーー!' Setelah itu, aku memikirkan hal itu."

Tolong lupakan itu! Itu benar-benar amarah sesatku. Pahlawan SS-rank seperti kau tak perlu memikirkannya! Lupakan segera dan bergegas ke kota berikutnya!

"Aku akan bertanggung jawab dan menjamin gaya hidup masa depanmu. Aku menjanjikan hidup tanpa ketidaknyamanan. Itu sebabnya..."

Aku berdiri di sana, bingung, saat ia mengambil tangan kananku. Pada saat yang sama saat ia menggenggam ke tanganku, dia:

"Mulai sekarang, silakan memarahi... tidak, maksudku, menyiksa diriku yang tidak kompeten!"

Ap!?

...Apa-apaanーーー!?

Meskipun kau mengatakan itu dengan mata gemerlapan dan nada demam, itu masih menakutkan! Aku tidak bisa memahami—!

"…Menjijikan!"

Merinding, mau tak mau aku menyemburkan perasaanku yang sebenarnya. Karena tiba-tiba, aku tidak punya waktu untuk lebih bijaksana. Oh tidak, pada saat aku menyadari itu, itu sudah terlambat.

...Makanya, aku tidak memujimu! Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, itu bukan pujian! Itu sebabnya, kau bisa berhenti memerah dan dengan senang hati menghindari tatapanmu dariku sambil tersenyum dan gelisah?

"Juga... bagaimana kau tahu?"

"Ta-tahu apa?"

"Fakta bahwa ibuku Ratu Gran, memiliki pusar bodong."

"........."

Tidak, oke, itu sebenarnya kalimat klise yang dikatakan oleh anak-anak dalam perkelahian yang telah digunakan dulu sekali. Jadi, aku tidak tahu sama sekali bahwa itu sangat betul. Entah bagaimana, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan pahlawan ini yang terus menatapku dengan tatapan memuja.

"...ngomong-ngomong, aku juga memiliki pusar bodong."

"Memangnya aku peduli!"

"... Aku merasa ditakdirkan untuk bersamamu ketika kau melihat semua hal diriku pada pandangan pertama..."

Benar-benar berlawanan dari diri bermasalahku, pahlawan itu dengan tenang sambil mengarahkan pandangannya yang membara padaku. Tatapannya sangat panas sampai aku hampir mulai khawatir jika ia demam dan demam itu bilang telah mencapai otaknya, membuat bunga mekar di sana. Sambil berpikir begitu, pahlawan itu menjatuhkan ciuman ke tangan kananku yang dipegang.

"Putriku..." dia diam-diam bergumam.

GYAAA! Siapa putri ini!? Tanpa pikir panjang, aku menginjak wajah berkilau pahlawan itu.

Ah.

Oh tidak.

Karena dorongan tiba-tiba, aku menginjak wajahnya tapi, meskipun pahlawan ini terlihat begini, ia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk memusnahkan rawa besar dalam sekejap. Jika pahlawan itu cukup serius, ia mungkin bisa, dalam sekejap, mengubah seseorang sepertiku menjadi debu, puing-puing, dan abu. Merasakan bahaya tertentu untukku, aku perlahan-lahan~ memindahkan kakiku darinya. Di wajahnya, jejakku masih tetap ada. Dengan mata berair dan senyum, untuk beberapa alasan, pahlawan itu tampak bahagia.

Alih-alih menjadi SS-rank, bukannya pahlawan ini benar-benar M-rank?

Tidak! Peringkat seperti itu tidak ada! Tapi, kini tepat di depan mataku. Apa yang harus kulakukan dengan ini?



Swamp 4

Mau tak mau aku mundur ketakutan.

"Yah... itu yang... dengan kata lain..."

Sebuah tangan kasar menepuk bahuku dengan paksa. Kapan mereka datang!? Penyihir Hitam! Jangan menakut-nakutiku tiba-tiba!

"Dia... Sampai sekarang, dia memiliki pendidikan yang terlindung. Dia selalu dipuji dan diberi terima kasih oleh para warga tetapi, karena bakat dangkalnya, tidak ada yang pernah benar-benar berbalik memarahinya. Sebaliknya, semua gadis yang mendekatinya ini jenis yang sama. Dianggap penting dan memuji mewah adalah normal baginya. Di tengah semua itu, yang secara sepihak dimarahi oleh seorang gadis pertama kalinya mungkin merasakan segar. Akibatnya, ia terbangun, kukira~"

Menatap penyihir yang memiliki senyum memikat seperti sedang geli, aku ingin menanyakan apa sebenarnya yang lucu.

"Ap... Apa yang dia ketahui...?"

Meskipun aku bertanya, aku takut mendengarkan jawabannya.

"Hmm? Misalnya, menikmati dicela buka-bukaan atau senang menerima pelecehan verbal, kurasa..."

Siapa yang butuh itu---! Semacam keahlian Super-M. Kurasa itu diperlukan untuk pahlawan memiliki banyak keahlia  tetapi hanya aku yang merasa bahwa tidak ada yang perlu untuk memperoleh semacam keahlian?

Aku ingin meninju diriku untuk melakukan sesuatu seperti membangunkan singa tidur. Aku ingin kembali ke hari itu. "Ada keahlian tertentu dan orang-orang yang lebih baik menyisakan tertidur." Adalah apa yang kusadari tetapi, pada saat itu, sudah terlambat.

"B-begitu, apa yang harus kulakukan?"

"Menyerah."

"Hah?"

Apa yang kudengar tadi?

"Itu wajah gembiranya. Ini pertama kalinya aku melihat dia sangat bahagia, bahkan bagiku yang telah dengannya begitu lama.... Untuk lebih tepatnya, ia senang sejak kemarin. Aku belum pernah melihat hal itu sampai sekarang. Tidak mungkin... Ini 'cinta pertama'-nya?"

"La-lalu, bagaimana dengan membiarkan dia mengalami pepatah langsung, 'Cinta pertama tidak terwujud'?"

Penyihir itu tertawa.

"Itu mustahil. Sampai sekarang, dia membunuh setiap monster yang dia targetkan. Bahkan Gigantes yang berada di Goa Monster Utara dan naga yang berada di Pegunungan Api Selatan tewas olehnya."

Hentikan! Jangan mengelompokkan aku bersamaan dengan monster seperti naga atau Gigantes. Meskipun aku dikira seorang gadis rawa, aku hanya wanita manusia yang lemah dan normal—!

"Juga, bukannya sudah dibilang sebelumnya...?"

Tertawa ke arahku, penyihir itu mengusap rambutnya.

" 'Cinta adalah monster', atau begitulah."

"...................................."

T-A-K B-E-R-G-U-N-A---!

Orang ini tak berguna---!

Secara pribadi, aku berharap bahwa karena mereka berada di pihak yang sama, ia akan menghentikan pahlawan itu tapi aku tidak perlu kalimat buruk dan tua seperti "Sudah kuputuskan..."!

Aku berbalik. Pahlawan itu, dengan mata berkilau padaku, menatapku dengan tatapan penuh harap. Untuk sesaat, kurasa aku melihat dua telinga anjing muncul di antara rambut emasnya tapi itu mungkin hanyalah imajinasiku. Tanpa pikir panjang, aku dipukul dengan dorongan untuk mengikat tali di lehernya, mengkikat tali ke sebuah pohon, dan lari; tapi aku menahannya. Aku mundur, langkah demi langkah, satu langkah pada sesaat.

Aku memikirkan hal itu sebentar tapi tidak ada yang tersisa bagiku untuk mengatakan.

Selamat tinggal sudah.

Selamat tinggal, rawa.

Selamat tinggal, tempat memancing.

Selamat tinggal, hobiku.

Selamat tinggal, pahlawan-itu-sebenarnya-seorang-mesum.

"………Selamat tinggal."

Tinggal lebih lama lagi adalah sia-sia jadi aku lari dengan kecepatan penuh. Melihat pahlawan itu lari mengejarku untuk menghentikanku, tanpa berpikir, aku:

"Jangan ikuti aku! Mesum!"

Aku melemparkan beberapa pelecehan verbal tetapi semua itu adalah membuat pahlawan itu memerah dan bahagia.

"Kau akan memanggilku dengan nama yang indah seperti itu, aku mengerti."

*hembusan angin diam*

Oh nah. Berakhir, sudah berakhir. Pahlawan ini sudah berakhir.

-----

Setelah itu.

Party pahlawan berangkat... Yah, seharusnya sudah berangkat tapi, sebelum ada yang menyadari, party itu sering mampir kota ini. Bukankah itu aneh? "Demi perdamaian dunia, lakukan pekerjaanmu!" adalah apa yang kucibir... tidak, maksudku menasehati tapi ia hanya tersipu dan terus menggunakan kota ini sebagai pos pemeriksaan perjalanannya.

Dan, untuk beberapa alasan, kota ini dikenal sebagai "Persembunyian Pahlawan", menjadi lebih banyak wisatawan. Area rawa kemudian dikenal sebagai "Rawa Kekasih" banyak pasangan mulai mengunjunginya. Pada saat tertentu, kutukan akan menghilang jika kau berlutut di depan seorang gadis dan mengambil sumpah cinta di area rawa, kau akan menikah dengan bahagia. Akibatnya, rawa itu menjadi tempat wisata dan kota yang tenang semakin keras dan sibuk. Pekerjaan baruku menjadi pemandu wisata. Aku sibuk bekerja sehari-hari.

Kemudian, aku menemukan itu Pahlawan Rufus dirinya yang menyebarkan kutukan yang mencurigakan. Setelah mengetahui bahwa ia adalah orang yang mengatakan kepada semua orang bahwa "Putriku dan aku terikat satu sama lain di sana", aku benar-benar memukulnya sebagai hukuman.

Bahkan saat aku memukulnya:

"Suatu hari nanti, mari kita membangun sebuah rumah di dekat rawa dan tinggal di sana."

Menghadap Rufus yang membuat pernyataan itu dengan kepala menatap awan:

"Aku menolak."

Adalah 1-hit KO mantan gadis rawa.



fin



The Hero and The Swamp Girl

Diposkan Oleh: setiakun