14 January 2017

Nurarihyon no Mago Jilid 1 Cerita 1 B 3

Sengaja kasih ini, banyak yg copas--
http://setiakun.blogspot.com
Jangan yg lain tetap di sb translation

BAB 3


Klan Bakeneko awalnya organisasi perjudian. Jadi selain mengoperasi restoran, mereka juga memiliki sisi lain—

Sarang perjudian yang dibuka setiap malam.

Sarang perjudian terletak di lantai atas, terisolasi dari kebisingan yang disebabkan oleh pelanggan mabuk. Setelah berjalan melalui koridor yang panjang, itu adalah dua ruangan ala Jepang yang dipisahkan oleh pintu geser kertas.

Perjudian Bakeneko ada youkai poker serta Odd Even(Ganjil Genap).

Tatami ditutupi dengan kain putih, dan di atas itu, wadah dadu ditempatkan, para youkai yang berjudi memutari ruangan ini dan jika tebakan dadu menunjukkan genap atau ganjil dan menggunakan tablet tampak agak modern untuk bertaruh.

Setelah youkai yang bertugas melempar dadu telah melempar dadu, wadah yang berisi dadu akan dicabut dan nomornya disebut. Beberapa youkai akan bersorak, yang lain akan menggerutu. Tablet akan datang dan pergi pada wadah dadu, dan udara penuh dengan emosi dan gairah nyaris ditekan. Ini juga merupakan sumber pendapatan utama bagi Klan Bakeneko.

"Apa yang terjadi?" tanya Ryota Neko.

Menurut anggota staf yang turun dari sarang perjudian, ada seorang pelanggan yang akan memenangkan setiap putaran, dan itu sangat aneh.

"Ini sungguh tidaklah normal, sepertinya pria itu memiliki kemampuan prediksi, dan bisa menebak dengan benar. Selama babak yang saya amati, dia telah memenangkan 8 putaran. Pelanggan lain melihat bagaimana akuratnya dia dan mulai bertaruh pada tebakan yang sama seperti dia, dan kita tidak bisa mendapatkan cukup tablet sama sekali."

Ketika taruhan ganjil genap, jika jumlah tablet di kedua sisi bukan nomor yang sama, permainan tidak dapat dimulai. Agar sesuai, sisi yang kekurangan tablet akan perlu untuk menambahkan jumlahnya, atau sisi dengan lebih banyak tablet mengurangi jumlahnya, atau dealer menambahkan jumlah yang hilang. Yang berarti, semakin rumit aturan, semakin mudah untuk sesuatu jadi salah ketika dimainkan.

"Orang macam apa dia?"

Tanya Ryota Neko.

"Dia seperti pria tua yang normal. Mungkin saja ia menyamar sebagai manusia..."

"Mungkinkah dia penipu?"

Ryota Neko mengacu pada penipu yang membodohi orang lain.

Anggota staf memiringkan kepalanya, tidak yakin.

"Saya tidak terlalu yakin. Dan saya tidak merasakan bahwa ia mampu mengelabui mata kakak pelempar dadu..."

Anggota dari Klan Bakeneko yang melempar dadu adalah perempuan yang sangat berpengalaman, dan keterampilan melempar dadunya diasah dengan baik, Ryota Neko sangat percaya padanya juga.

"Bisa kakak datang melihat?"

Para anggota kelompok bertanya, lemah.

Dengan meninggalkan penjudi tidak wajar sendirian, itu akan sulit untuk menengahi para penjudi lainnya. Dan kalau berita bahwa sarang perjudian dari Bakenekoya tidak menyelidiki kasus kecurangan, itu akan merugikan citra Nura Gumi.

Ryota Neko menyipitkan matanya, dan berdiri.

"Oke, ayo pergi."

Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Aotabou dan sisanya, Ryota Neko menuju ke sarang perjudian bersama dengan anggota klan.

Berjalan menaiki tangga, dan melalui koridor remang-remang, Ryota Neko mencapai aula dengan cahaya samar lampu.

Pelanggan youkai dan wanita pelempar dadu sedang saling menatap dari seluruh piringan dadu. Duduk di lantai dengan punggung ke penyekat, dia mengenakan kimono, menunjukkan setengah bahu dan kainnya mengikat dada. Tentu saja, wanita ini juga merupakan youkai, seorang Neko-mata. Rambutnya ponytail longgar, dan telinga kucing di kedua sisi kepalanya. Mungkin karena dia tegang, tapi telinga kucingnya yang ceria ke atas.

Melihat Ryota Neko muncul dari balik penyekat, wanita pelempar dadu melirik ke arahnya, dengan ekspresi agak kaku di wajahnya. Ryota Neko duduk di sampingnya dan mengamati pelanggan yang menghadapi mereka.

Sangat cepat, Ryota Neko bisa membedakan mana pelanggan dengan jumlah menang yang tidak wajar. Seseorang tidak akan bisa menang sebesar itu didasarkan dari peluang normal menang, dan satu-satunya wanita pelempar dadu itu menghadap tumpukan tablet di sampingnya. Penampilannya benar-benar seperti pria tua yang tampak normal, mengenakan setelan hitam dan kemeja putih dengan kerah terbuka, memberi orang lain kesan seorang polisi yang tidak lazim atau gangster. Tapi semua ini hanya pengalih perhatian. Dia tidak menutupi youki-nya sama sekali, dan pasti youkai. Tetapi sulit untuk mengatakan apa jenis youkai semata-mata dari youki-nya.

Putaran itu berhenti di tengah jalan, dan istirahat ini tampaknya telah berjalan sesaat. Pria itu menjadi tak sabar...

"Ada apa, nona? Bukankah melempar dadu itu pekerjaanmu?"

"Itu benar, putarlah!" youkai lainnya juga bergabung. Kalau mereka mengikuti taruhan orang ini, itu pasti akan menjadi benar, tentu saja mereka ingin pemenang akan diputuskan dengan cepat.

"Tuan, tampaknya Anda menikmati diri Anda."

Ryota Neko mengalihkan perhatian pada pria itu.

"Kau siapa?"

"Permisi. Aku bos dari Klan Bakeneko, Ryota Neko. Senang bertemu dengan Anda."

"Sampai bosnya datang dan menonton pertandinganku, aku benar-benar menyesal tentang itu. Aku senang sekali." orang itu menjawab sambil membelai jenggotnya yang berantakan.

"Oh ya, bos, Anda harus membantuku mengatakan sesuatu tentang hal ini. Aku tidak yakin apakah dia takut atau apa, tapi wanita ini di sini terus menolak untuk melempar dadu."

"Melihat berapa banyak Anda menang, siapa pun yang melempar dadu akan takut."

"Aku hanya beruntung hari ini. Anda bisa bilang bahwa aku memiliki Roh Keberuntungan mengikutiku, dan itu sangat efektif dalam sarang perjudian youkai."

Setelah itu, pria itu tersenyum licik.

"Aku akan menyuruhnya melempar dadu."

Kata Ryota Neko dengan nada suara ringan.

"Tapi hanya Anda dan orang melempar dadu bisa terus bermain, hanya untuk kalian berdua."

Wanita pelempar dadu tampak terkejut, dan pelanggan lain mulai berteriak juga...

"Hei hei hei, apa-apaan ini?"

"Ayo kita bermain juga!"

"Kenapa pertandingan satu-satu?"

"Semuanya, aku sangat menyesal, akul tahu ini sangat kasar, dan agak tidak masuk akal. Tapi—"

Ryota Neko melanjutkan dengan nada kuat.

"Harap mengerti. Jika Anda belum cukup bermain, ada ruangan lain di mana Anda dapat berjudi juga."

Mungkin karena mereka kewalahan oleh nada Ryota Neko, atau mereka hanya ingin tahu tentang bagaimana pertandingan perjudian ini akan berakhir, tapi meskipun mereka tidak benar-benar puas, suara-suara protes menjadi lebih lembut.

Ryota Neko menghadapi pelanggan bermasalah sekali lagi.

"Pak, apakah Anda menerima ini?"

"Keberuntungan mengikutiku, jadi aku sangat tidak keberatan."

Pria itu tersenyum angkuh.

Ryota Neko bersandar pada wanita pelempar dadu, dan berbisik beberapa kalimat.

"Aku mengandalkanmu."

"Itu pasti akan ditebak dengan benar."

Wanita itu berbisik kembali.

"Tidak penting. Aku hanya ingin melihat bagaimana dia taruhan."

Dia hanya ingin melihat trik pria itu.

Meskipun para anggota tidak yakin apakah taktik kecurangan itu digunakan, tapi dari kemenangan beruntun yang tidak wajar itu, jelas ada sesuatu yang mencurigakan. Tapi tanpa bukti, itu akan sulit untuk dia mengakui kejahatannya tanpa menangkap basah.

Aku perlu menggunakan mataku sendiri untuk menangkap kebenarannya.

Wanita pelempar dadu tidak banyak bicara. Dia menghela napas mengikuti kecepatan napasnya, dan terfokus pada lawan. Seperti yang diharapkan dari seorang veteran, bahkan dengan menyesuaikan emosinya, kau bisa melihat keahliannya. Wanita itu dengan cepat masuk ke bentuk yang baik dan mulai melempar dadu. Wadah di tangan kanannya, dua dadu antara jemarinya di tangan kirinya, kemudian dia menyilangkan kedua tangan.

Ryota Neko terus mengamati pelanggan bermasalah.

Ekspresi pria itu agak kabur, tanpa perasaan apa pun, tidak ada aura dapat dirasakan darinya juga. Dia menyilangkan kedua kaki dengan tangan di pangkuannya.

"Apa Anda siap? Baiklah... saya lempar dadu."

Setelah mengatakan itu, wanita itu melempar dadu ke dalam wadah. Dadu dapat didengar memantul di dalam wadah.

Di tengah hidangan dadu, ada yang tikar setebal satu inci. Setelah melempar dadu, wadah akan terbalik di atasnya.

Pada saat itu, pria itu menguap. Orang ini, bertindak sangat santai, Ryota Neko memelototinya.

Ryota Neko memusatkan seluruh perhatiannya pada setiap tindakan pria itu buat, terutama di mana dia sedang melihat.

Apakah ada youkai yang dapat melihat menembus benda, Ryota Neko tidak yakin tentang itu sama sekali. Tapi, kalaupun memang ada, wadah itu dicampur dengan mantra yang dapat mencegah orang lain melihat, jadi mencoba untuk melihat melalui wadah adalah mustahil.

Meskipun tidak melihat menembus benda-benda, tindakan lainnya pasti menjadi sesuatu yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Tujuan Ryota Neko adalah gerakan-gerakan seketika.

Tapi kemudian, pria itu hanya menyipitkan matanya. Sehubungan dengan mata saja, hanya dapat dianggap sebagai tindakan, itu semua. Setelah itu, pria itu sembarangan mengambil segenggam tablet dan melemparkan di piring.

"Aku bertaruh genap."

Pria itu berkata dengan nada ringan.

Wanita itu membuka wadah.

"Dua dan enam..genap!"

Mendengar nada suara wanita itu, pria itu tertawa keras.

Tablet memenangkan didorong ke arah pria itu. Kalau itu diuangkan, jumlahnya akan sama dengan gaji bulanan 10 staf Bakenekoya.

'Lanjutkan', Ryota Neko memberi sekilas pada wanita itu, memberinya sinyal tersebut.

Wanita itu kembali ke depan, mengambil wadah dan dadu, dan memulai tindakannya.

Dadu dilemparkan ke dalam wadah, dan suara dadu memantul dalam wadah dapat didengar, lalu wadah itu terbalik.

Ryota Neko memusatkan perhatiannya pada pria itu, tetapi ekspresinya sama seperti sebelumnya, tidak ada perubahan bisa dilihat.

Pria itu terbatuk ringan dan bahkan melemparkan lebih banyak tablet dibandingkan dengan sebelumnya.

"Genap." katanya

Wanita itu mengangkat wadah. Dadu menunjukkan tiga dan satu masing-masing.

"Tiga dan satu, genap."

Pria itu tertawa dua kali, dan bahkan lebih banyak tablet didorong ke sisinya.

Keringat mulai muncul di dahi Ryota Neko.

Tidak ada tindakan aneh sama sekali. Selain menempatkan tablet di piring, pria itu tidak membuat gerakan lain.

Wadahnya tidak dapat dilihat. Bila bukan wadahnya, itu akan menjadi dadu. Apa ia menukarnya dalam kebingungan? Itu mustahil, bila sesuatu dilakukan pada dadunya, itu akan ketahuan karena menyentuh dadu, orang-orang pelempar dadu tidak bisa sesensitif itu.

"Ada apa, Bos?"

Kata pria itu.

"Apakah Anda menemukan bukti aku curang?"

Seketika, tatapan Ryota Neko berubah tajam. Pria itu terus berbicara, tanpa malu-malu...

"Semua yang Anda pikirkan aku curang, itu sebabnya Anda meminta atasan Anda untuk datang secara pribadi, dan untuk melihat trikku, Anda mengusulkan pertandingan satu-satu. Jadi, apa Anda melihat sesuatu?"

Cara dia mengatakan itu seperti mengakui bahwa dia menggunakan trik dan menantang "Cobalah tangkap aku kalau kau bisa" agak jelas.

Seolah-olah benang yang dipetik di dalam dirinya, tapi itu bukan perasaan bahagia sama sekali. Ryota Neko mengembuskan napas perlahan dan berkata...

"Dari apa yang kulihat dari mengamati dari sini, tidak ada sesuatu yang mencurigakan."

"Betul. Aku tidak bersalah, ya kan."

"Itu tidak mungkin terjadi."

"Ah?"

"Aku bilang 'Dari apa yang kulihat dari mengamati dari sini'. Yang berarti jika aku menyaksikannya dari tempat penonton, tidak ada masalah."

"Apa yang ingin Anda coba?"

"Ada beberapa hal yang akan menjadi jelas setelah kami bersaing—Pak, Anda ingin bertanding denganku?"

Nurarihyon no Mago Jilid 1 Cerita 1 B 3

Diposkan Oleh: setiakun

0 Komentar:

Post a Comment