01 January 2018

Arifureta After 12

Sengaja kasih ini, banyak yg copas--
http://setiakun.blogspot.com
Jangan yg lain tetap di sb translation

SEBAGAI PUTRI RAJA IBLIS
BAGIAN 4

AN: Bab kedua untuk hari ini.

Ada yang ketiga. Perhatikan.



Sepuluh kilometer di atas langit.

Ada pesawat jumbo di langit itu. Dengan lautan awan di bawah, sementara mesin jet yang kuat bergemuruh keras, pesawat menuju Amerika langsung.

Tapi, penerbangan pesawat itu berada dalam situasi yang tidak normal sama sekali. Itu karena ada beberapa pesawat tempur menyusul di belakang pesawat itu dari jarak yang agak jauh. Bukan karena hampir ketinggalan pesawat atau karena pesawat ini sebenarnya adalah pesawat eksklusif presiden. Alasan mengapa pesawat tempur bersenjata lengkap terbang di belakang pesawat penumpang yang berjaga-jaga adalah satu hal.

Itu demi menembak jatuh pesawat, sebelum kerusakan bisa ditimpakan ke negara tersebut. Karena sebuah pesawat yang dibajak oleh teroris tidak berbeda dengan cangkang meriam terbang yang memiliki massa besar.

Ya, pesawat penumpang itu saat ini sedang dibajak oleh teroris. Karena para teroris yang entah bagaimana memasukkan senjata ke dalam pesawat, di dalam pesawat kini dikuasai oleh kegugupan dan ketakutan.

"Oi, kau......"

"?"

Semua orang diam, hanya menunggu saat yang menakutkan ini untuk pergi. Seorang pengusaha penumpang mencuri tatap seorang teroris yang patroli sebelum memanggil dengan suara kecil pada pemuda di seberang jalan di sampingnya.

Sehingga dia tidak akan berdiri, pemuda itu hanya mengangkat kepalanya yang menunduk sedikit. Saat dia melirik sekilas ke arah pengusaha yang memanggilnya, segera setelah sebuah remit kertas kecil dilemparkan ke pangkuan pemuda tersebut.

Pemuda itu kaget dan dia mengarahkan pandangannya kepada pengusaha tersebut, tapi saat itu si pengusaha sudah menunduk dan duduk dengan tenang di tempat duduknya, seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Pemuda itu merasakan sensasi keringat dingin di punggungnya sambil berhati-hati terhadap teroris patroli, dia membuka gulungan kertas yang dilipat di telapak tangannya.

——17: 35

Hanya ada tulisan itu di atas kertas. Biasanya tulisan semacam itu terlalu samar, tapi pemuda itu merasa terguncang seakan listrik mengalir di sekujur tubuhnya. Dia bisa menebaknya. Waktu tertulis yang sepuluh menit lebih banyak dari waktu sekarang, adalah saat dimana situasi di dalam pesawat bisa berubah hebat.

Dengan sekilas, pemuda itu menatap penguasaha di sisinya. Pengusaha itu juga mengalihkan tatapannya tanpa menggerakkan wajahnya, dan mengangguk kecil. Keinginan untuk bangkit dalam serangan balik untuk menyelesaikan insiden pembajakan ini, ada pada si pengusaha itu.

Kemungkinan besar kertas ini tidak hanya dilakukan pada pemuda ini, tapi juga untuk orang lain. Tidak diketahui siapa orang yang mulai menyebarkan kertas ini, tapi orang yang mengirim kertas ini, seharusnya mengharapkan bahkan satu orang lagi untuk menjawab panggilan tersebut.

Tentunya karena orang itu telah menduga tujuan teroris dengan samar-samar, dia memutuskan untuk membuat pertaruhan tenggelam atau berenang. Dalam berita terbaru, ada banyak topik tentang pemboman bunuh diri. Gambaran wajah teroris tampak seperti ciri khas orang-orang di negara tempat organisasi teroris terkenal yang dilaporkan setiap hari berada dalam berita. Dalam hal ini, ada kemungkinan untuk membayangkan kasus terburuk mengenai tujuan pembajakan pesawat ini.

Pemuda itu, berpikir bahwa mereka akan mati juga jika situasi ini terus berlanjut, memarahi hatinya yang merasa ketakutan dan mengangguk cepat pada si pengusaha. Dan kemudian, untuk meningkatkan jumlah rekan pemberani bahkan hanya dengan satu orang, dia diam-diam menyerahkan surat dimana waktu untuk serangan balik ditulis kepada orang lain.

Tak lama kemudian, di dalam pesawat dimana keheningan yang menakutkan, arloji para penumpang hendak mencapai waktu yang tertulis. Ketegangan tiba-tiba naik. Di samping pemuda itu, pengusaha itu mengusap keringat di keningnya. Pemuda itu juga sangat mengerti perasaan itu. Nasib mereka mungkin diputuskan beberapa menit kemudian. Ketegangan yang dirasakan pengusaha bukanlah sesuatu yang rata-rata. Pemuda itu sendiri merasakan keringat yang menetes di punggung dan lehernya dan perasaan tubuhnya menjadi dingin.

Tapi, pada saat itu, bagian belakang pesawat tiba-tiba jadi berisik. Berteriak marah dan menjerit, lalu terdengar suara tembakan bergema. Pemuda itu kehilangan warna. Ini akhirnya dimulai.

Pemuda dan pengusaha itu, dan kemudian beberapa pria—— ayah dengan keluarga, seorang pria paruh baya yang sepertinya menumpang pesawat dengan istrinya, dan seterusnya, mereka mencari kesempatan sementara wajah mereka tegang karena tekanan ini.

Dan kemudian, para teroris yang melihat keanehan di bagian belakang pesawat bergegas dari pos mereka sambil mengatakan sesuatu, pada saat itu.

"UOOOOOOOOH"

"Tahan mereka–"

"Curi senjatanya–"

Para penumpang yang telah berkonspirasi sebelumnya memberontak secara bersamaan. Salah satu teroris yang memalingkan punggungnya ditangani dari belakang, orang itu menahan tangan teroris yang tidak melepaskan senjatanya dengan putus asa bahkan saat dia terjatuh. Seorang teroris lainnya, ketika dia mengalihkan pandangannya kepada rekannya yang ditangani, dia juga segera bergumul oleh ayah dengan keluarga yang berada tepat di sisi teroris dan keduanya terjatuh ke lantai.

Itu menjadi bising di dalam pesawat. Pada saat yang sama, harapan yang mungkin terus begini mereka akan mampu menaklukkan para teroris, mulai menyebar di antara penumpang.

Tapi,

*pan-*

Sebuah tembakan bergema, pada saat bersamaan, pengusaha yang menahan seorang teroris merosot saat mengerang. Dan satu tembakan lagi. *pan-* Sebuah tembakan bergema, dan ayah dengan keluarga yang menahan seorang teroris lain berteriak dan terjatuh.

Segera, para teroris menekan penumpang lain, dan kemudian mereka menembak dengan senjata mereka sambil mengumpat dan berdiri. Pemuda yang juga ditembak di kakinya membuat suara sedih saat mengalihkan tatapannya, dan di sanalah dia melihat sosok seorang pramugari memegang pistol kecil.

"Tidak mungkin...... kenapa......"

Pemuda itu membocorkan suara yang kebingungan. Itu wajar saja. Pramugari itu orang Kaukasus berambut pirang, tidak peduli bagaimana dia memandang kewarganegaraannya berbeda dengan para teroris.

Karena sosok teroris dan berita sehari-hari, para penumpang benar-benar mendapat kesan bahwa organisasi teroris dibuat dari ras negara itu saja. Tapi kenyataannya, para teroris telah mengambil metode untuk menculik orang-orang dari berbagai negara yang mereka cuci otak, sebelum mereka mengembalikan orang-orang ke negara asal mereka untuk bekerja sama dengan terorisme, sehingga teroris tidak harus dibatasi hanya untuk ras di negara tersebut.

"Ayah-, ayah-"

"Sayang-, bertahanlah-"

Suara cemas bercampur dengan jeritan bergema. Melihat ke sana, seorang gadis muda dan seorang ibu menangis sambil berpegangan pada ayah yang tertembak.

Teroris laki-laki yang sedang mengumpat sambil melampiaskan kemarahan mereka pada penumpang yang memberontak, saat mereka melihat keluarga mereka menangis, ekspresi mereka berubah menjadi sesuatu yang jelek seolah mengatakan bahwa mereka telah menemukan sasaran yang bagus untuk dijadikan pelajaran. Lalu mereka berjalan menuju keluarga itu.

"Dosa memperlakukan dengan meremehkan kebaikan kita membuat kalian semua menemani kita dalam kematian yang terhormat itu berat. Mati saja tanpa arti, bersama dengan seluruh keluargamu."

Sang teroris mengarahkan handgun-nya ke keluarga. Ayah yang ditembak itu, meski ekspresinya mulai pucat karena terlalu banyak berdarah, dia mencoba menutupi putri dan istrinya dengan putus asa.

Semua orang membayangkan akhir tragis keluarga. Fakta bahwa pemberontakan mereka berakhir dengan kegagalan total akan ditanam di dalam penumpang dengan eksekusi publik ini.

Tapi, saat teroris hendak menarik pelatuknya, tiba-tiba tembakan bergemuruh di bagian belakang pesawat. Tangan teroris berhenti bergerak karena suara itu. tapi, menebak hal yang sama seperti di sini terjadi di belakang, dia langsung memasukkan kekuatan ke jarinya pada pelatuknya.

Tepat setelah itu, suara tembakan berturut-turut bisa terdengar lagi. Gerakan teroris itu berhenti sekali lagi sambil berpikir bahwa mereka benar-benar mencolok di belakang sana. Pada saat itu, para teroris yang berada di daerah ini percaya tanpa keraguan, bahwa rekan mereka juga memberi contoh di belakang sana.

Lagi pula, ada juga konspirator yang dicuci otak dari negara lain yang bersembunyi di sana juga, jadi tidak peduli apa yang terjadi, mereka bisa meluncurkan serangan mendadak, ada juga lebih banyak teroris yang ditempatkan di belakang dibandingkan di depan sini. Mengenai tembakan senjata beruntun, ada banyak orang berdarah panas di antara para teroris, jadi para teroris di sini berpikir begitu karena hal itu.

"Oi oi, apa yang dilakukan orang-orang di sana?"

"......Yeah. Seperti yang diharapkan, mereka menembak terlalu banyak. Apa yang akan mereka lakukan jika ada peluru nyasar di jendela."

Para teroris saling memandang wajah masing-masing. Penyebabnya adalah karena suara tembakan yang intens tengah bergema bahkan sekarang.

Tujuan para teroris adalah serangan bunuh diri di ibukota Amerika dengan menggunakan pesawat yang dibajak. Mereka tidak bisa membiarkan pesawat menabrak sampai saat itu sehingga mereka harus memperhatikan dengan cermat bahkan saat mereka menggunakan pistol. Namun terlepas dari itu, saat ini suara tembakan terdengar dari belakang pesawat membuat mereka berpikir bahwa penembak itu tidak membuat pertimbangan seperti itu, malah terdengar seperti tembakan yang dilakukan dengan sangat putus asa sampai mati.

" Oi, Nadim, Karim, apa yang kalian lakukan? Laporkan situasinya."

Karena bagian depan dan belakang pesawat dipartisi satu sama lain dan mereka tidak dapat melihat apa yang terjadi, mereka tidak dapat memahami situasi dengan penglihatan. Jadi mereka menggunakan alat komunikasi untuk menghubungi yang lain, tapi yang bisa mereka dengar hanya suara "Mustahil-! Apa, itu-" yang tak bisa dipahami, itu adalah campuran teror, kegelisahan, dan kebingungan.

"Oi, Nadim! Apa yang sedang terjadi! Laporkan-"

'Seorang wanita-, itu mustahil-! Senjata itu tidak bekerja-. Si wanita pira——'

Suara pria bernama Nadim terputus. Pada saat bersamaan, suara tembakan sengit juga berhenti.

Keheningan menakutkan menyelimuti bagian dalam pesawat.

Teroris yang tengah menatap perangkat komunikasi itu memberi isyarat dengan tatapannya pada pria dan pramugari lainnya. Keduanya mengangguk dan mengarahkan senjata mereka ke partisi menuju area belakang.

'Ini Yosef. Saeed. Apa yang terjadi dengan Nadim dan lainnya? Apa yang terjadi disana?'

Komunikasi dari rekan teroris yang menduduki kokpit itu datang. Pintu kokpit ditutup rapat, sudah diatur sebelumnya agar pintu tidak bisa dibuka tidak peduli apa yang terjadi di area penumpang. Jadi, teroris yang mengenalkan dirinya sebagai Yosef tidak keluar dari kokpit, tapi dia tetap bisa berkomunikasi dan meminta laporan bahwa teroris lain tidak dapat mengabaikannya.

Lebih jauh lagi, Yosef mampu menyelesaikan kesalahan masuk ke kokpit yang kokoh yang biasanya tidak dapat dibuka dengan maksud di tengah penerbangan, adalah karena sebelumnya para teroris telah membawa keluarga pilot tersebut sebagai sandera. Pilot yang didesak dengan pilihan yang memalukan, meski samar-samar dia mengerti bahwa dia akan terbunuh, bahkan saat memahami bahwa pilihan itu hanya akan memperburuk situasi, namun saat dia menunjukkan citra kulit lembut anak laki-lakinya yang sedang ditekan dengan pisau, akhirnya ia memilih untuk menaati para teroris. Orang yang membawa senjata di dalam pesawat dan membuka pintu kokpit juga pilotnya.

"Aku tidak tahu. Kita akan memastikannya dulu."

Saeed mengatakan itu, dan kemudian dia mendekati partisi itu ke area belakang sambil menyiapkan senjatanya.

Tapi, sebelum sampai di partisi, penyebab kelainan akhirnya tiba dari sisi lain. Sebuah jari ramping mengintip keluar dari tepi partisi, dan kemudian partisi itu dibuka lebar-lebar.

"Oo"

"......"

Untuk beberapa saat, Saeed bahkan melupakan situasinya dan mengeluarkan suara yang mengagumi. Teroris laki-laki lainnya juga kehabisan kata-kata, tapi matanya terbuka lebar karena shock.

Orang yang menunjukkan sosoknya dari area belakang, dengan rambut emas halus dan lembut berkibar, mata merah menyipit karena terlihat mengantuk, adalah gadis cantik yang tiada taranya yang seperti bisque doll. Ia pergi tanpa berkata, itu Yue dalam mode gadis.

Untuk menginjak-injak semua skema teroris dan membuat semua tindakan mereka menjadi tidak berarti, dia menaiki pesawat yang dibajak menggunakan space teleportation.

Mata Yue menatap para teroris secara bergantian. Saeed yang tatapannya bertemu dengan Yue merasakan suhu tubuhnya meninggi pada seorang gadis yang hanya bisa dilihat sebagai gadis di paruh pertama masa remajanya. Meski penampilan gadis ini hanya bisa dilihat sebagai gadis kecil tidak peduli bagaimana dia mengamatinya, tapi atmosfer yang dipakainya adalah personifikasi penyihir itu sendiri. Rasanya seperti serangga yang dipikat oleh jebakan serangga, jika dia membiarkan penjagaannya menurun maka rasanya dia akan menyerang gadis itu sambil berdiri terhuyung-huyung.

Yue mengalihkan tatapannya pada keluarga yang gemetar di kaki Saeed. Keluarga itu juga mengarahkan tatapan tercengang pada gadis cantik yang tiba-tiba muncul.

"……Tidak apa-apa."

Yue tersenyum pada gadis kecil yang berpegangan pada ayahnya dan memberinya kata-kata itu. Lalu, dengan santai, tanpa khawatir, dia berjalan menuju keluarga.

Sosok yang sangat tak berdaya ini menyebabkan Saeed kembali ke akal sehatnya, lalu tatapannya bergerak ke arah area belakang melalui partisi yang terbuka. Di sana ada......

"-, A-Apa yang kau lakukan...... Carlo-"

Di sana, dia melihat sebuah adegan dari rekannya berlutut, mencekik lehernya sendiri. Tampaknya pria itu sudah pingsan, putih matanya terlihat saat busa keluar dari mulutnya. Itu benar-benar adegan yang abnormal.

"......aku tidak sama dengan Kaori, tapi ini tidak masalah."

Saeed kembali sadar lagi karena suara yang datang dari bawahnya. Dengan 'hah' dia menurunkan tatapannya, di sana sosok Yue memegangi tangannya di atas ayah yang tertembak, dan sosok ayah yang terbungkus sinar emas samar itu bisa terlihat. Seolah-olah waktu sedang diputar ulang, darah itu mengalir kembali ke luka ayah sebelum luka itu terlihat menutup. Peluru yang masuk ke dalam tubuh juga terdorong keluar dari luka dan jatuh dengan 'plop'. Ibu dan anak perempuannya linglung, menatap pemandangan ajaib itu.

Yue yang memastikan bahwa luka itu telah ditutup berdiri dengan tenang. Dia tepat di depan Saeed. Mungkin karena dia telah menyaksikan pemandangan yang tak terbayangkan satu demi satu, bagian dalam kepala Saeed sudah kacau-balau.

Meski begitu, tahun-tahun lamanya berlatih dan mengalami terorisme, dia telah memindahkan tubuhnya dengan kemauan sendiri, mengatakan kepadanya bahwa gadis yang terlalu cantik di depan matanya merupakan ancaman baginya dan rekan-rekannya. Moncong senjatanya ditujukan ke kepala Yue dan tangannya menancapkan senjatanya ke depan.

"K-Kau, siapa—"

"......Kalian juga baik-baik saja."

Bahkan dengan senjata yang disodorkan padanya, gadis itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan. Sebaliknya, Yue yang sepertinya sama sekali tidak menyadari keberadaannya menyebabkan ekspresi Saeed kram.

Yue yang bertingkah seakan tidak peduli dengan Saeed melambaikan ujung jarinya seperti tongkat dan terentang cahaya emas. Setelah itu, pengusaha yang hampir mati akibat luka berat, pemuda tersebut, dan penumpang lainnya yang ikut dalam pemberontakan, luka mereka pun sembuh sama seperti si ayah tadi. Tidak berhenti sampai di situ, bahkan orang-orang yang telah kehilangan nyawanya telah mengembalikan detak jantung mereka dan mereka menyadari kesadaran mereka.

Bagi para penumpang, itulah pemandangan keajaiban.

Tapi, bagi para teroris, itu adalah pemandangan mimpi buruk.

Karena itu,

"Kuh, monster ini-"

*pan-*, Saeed menarik pelatuknya dan peluru itu meluncur menuju Yue. Itu adalah tembakan yang tidak mungkin terlewatkan dari jarak dekat ini. Pikiran setiap orang menunjukkan kepada mereka tempat kematian dimana otak gadis yang mewujudkan keajaiban ini akan tercecer dari kepalanya.

Tapi,

"Hal seperti itu...... mustahil."

Peluru berhenti di depan Yue. Di udara di mana tidak ada apa-apa, seolah ada sesuatu yang lembut menghalangi jalannya, tanpa ada perubahan bentuk peluru yang mengambang diam.

Pandangan Yue tertuju pada Saeed sekali lagi. Tidak ada emosi sama sekali di mata dingin itu. Saat Saeed melihat itu, dia dibuat untuk mengerti apakah dia mau atau tidak. Itu untuk gadis di depan matanya, dia adalah sesuatu yang tidak bernilai, sama seperti kerikil di pinggir jalan. Tidak ada artinya saat dia terlahir, dia tidak membawa apa-apa selain menyakiti dengan hidup, hanya rintangan untuk dilepas, dia akan lenyap tanpa ada yang mengangkatnya... itu adalah eksistensi yang dimilikinya.

"Uh, aaAAAAAAAA-"

Keberadaannya ditolak. Teror itu, penghinaan itu, membuat Saeed meledak. Dari jarak yang sangat dekat, ia terus menarik pelatuk seperti yang dimiliki. Setelah begitu, teroris lainnya dan pramugari juga mengarahkan senjata pada Yue dan melepaskan tembakan.

Para penumpang menjerit. Namun, itu pun terjadi hanya sebentar. Ketika mereka melihat bahwa beberapa lusin peluru mengambang di udara di sekitar Yue, jeritan mereka perlahan-lahan lenyap.

Saeed dan yang lainnya mengganti magasin senjata mereka dengan putus asa dan terus menembak sampai semua peluru yang mereka miliki habis.

Seperti itu, *kachink* suara transien seperti itu bergema. Pistol yang bagian atasnya meluncur mundur, memberi tahu mereka tentang akhirnya. Yue yang benar-benar tidak bergerak selama semua itu perlahan mengalihkan pandangannya melalui Saeed dan yang lainnya. Peluru yang mengambang di sekitar Yue jatuh di lantai sekaligus dan berserakan. Dan kemudian, sebuah kata.

"……terus?"

"-"

"Ua ......"

"Hih"

Saeed dan yang lainnya terhuyung mundur. Pistol mereka jatuh di lantai dengan bunyi gedebuk. Sudah hanya ada ketakutan yang bisa dilihat di mata mereka.

"Kau, kau, apa——"

".......kau tidak perlu tahu. Untuk saat ini, 'Diam'."

"-"

Mulut Saeed terbuka dan tertutup mencoba menanyakan identitas sebenarnya Yue. Tapi saat Yue memberitahunya "Diam" , suaranya tidak bisa keluar. Sementara Saeed menatap linglung, kata-kata Yue keluar lebih jauh.

"……'Berlutut'"

Saeed dan yang lainnya langsung berlutut. Di sana, Yue mengeluarkan serangan akhir—— "Divine Statement".

"......'Mencekik lehermu sendiri secara pelan-pelan'"

Sampai akhirnya, mata crimson Yue tidak memiliki warna emosi sama sekali terhadap mereka. Itu menjadi pemandangan terakhir yang dilihat Saeed dan yang lainnya.

Pandangan Yue bergerak menuju musuh terakhir, menuju teroris yang tengah menduduki kokpit. Dan kemudian, saat dia berjalan menuju pintu padat antara dia dan kokpit seolah hal seperti itu hanyalah sesuatu yang sepele,

*DOGOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOON-*

"-"

Kejutan sengit dan suara gemuruh menyerang di dalam pesawat. Tepat setelah itu, pesawat itu miring ke bawah dengan menyentak, dan masker oksigen jatuh dari atas kepala di atas tempat itu. Para penumpang menjerit. Para penumpang yang duduk di area belakang menyaksikan asap hitam menyembul keluar dengan intens dari dua sayap pesawat dan wajah mereka menjadi pucat sekaligus.

Ternyata keempat mesin yang dipasang di pesawat hancur. Mungkin harus dikatakan bahwa itu adalah keajaiban bahwa sayap itu sendiri masih utuh. Atau, mungkin sudah dihitung untuk berakhir seperti itu.

Pandangan Yue menyempit ke arah kokpit. Penyebabnya jelas sekali. Teroris terakhir menilai bahwa kalau begini ada kemungkinan besar serangan bunuh diri ke ibukota Amerika akan gagal karena kelainan yang terjadi di dalam pesawat, jadi dia mengaktifkan ledakan.

Bagaimanapun, ini adalah pesawat terbajak ketiga yang dinaiki dan diurus Yue. Penghakiman Yosef yang dibuat dengan tekad besar tentu karena dia berpikir bahwa meskipun pesawat yang dibajaknya sendiri tidak dapat memenuhi tujuannya, masih ada pesawat lain yang dibajak. Alih-alih memiliki pesawat ini benar-benar ditekan dan kemudian dibawa kembali, dia lebih memilih untuk menabrakkan pesawat ini untuk mengorbankan banyak penumpang Amerika, membawa banyak tragedi sehebat Amerika. Dia tidak langsung menghancurkan bodi pesawat dan sebagai gantinya hanya mesinnya, pastinya karena pemikirannya untuk membuat kerusakan lebih besar dengan memilih tempat di mana pesawat akan jatuh.

"......Nn, ini salahku. Aku akan menyeimbangkan kesalahan ini."

Tepat setelah Yue berbicara kepada dirinya sendiri seperti itu, dia menggunakan "Heaven Existence" untuk menghapus sosoknya dari dalam pesawat.

"Apakah aku, bermimpi?"

Orang yang bergumam begitu dalam keadaan linglung adalah pilot yang mengikuti pesawat penumpang. Ada laporan situasi menuntut dari radio, tapi pilot tidak memiliki ketenangan untuk menjawabnya.

Tapi, pasti akan sangat kejam bagi siapa pun untuk mengkritik pilot untuk itu. Pasalnya, karena di ujung tatapannya, ada pesawat hitam yang baru saja jatuh akibat ledakan mendadak yang kemudian diselimuti sinar emas pada saat berikutnya dan terus terbang lurus sekarang juga, itu karena dari pandangan yang sangat absurd inilah yang menyebabkan pilot menjadi seperti itu.

Dan apa yang menyebabkan tatapan pilot dipakukan di tempat, yang memaksanya tercengang, adalah sosok seorang gadis yang berdiri di atas pesawat itu. Seseorang berdiri di atas sebuah pesawat yang terbang di ketinggian——meski cukup untuk membuatnya meragukan kewarasannya sendiri, ada juga bagaimana gadis itu terbungkus cahaya emas yang sama seperti pesawat dan selanjutnya sepasang sayap bersinar terbentang dari punggungnya.

Mungkin melihat tatapan pilotnya, gadis emas itu——Yue memalingkan mukanya ke arahnya. Lalu, dia tiba-tiba tersenyum. ——Pesawat tempur tersentak dengan keras. Si pilot menekan dadanya seolah-olah dia telah tertembak oleh sesuatu. Dia harus segera memegang stik kontrol alih-alih itu.

Yue yang membalas tatapannya ke depan lalu biasanya mulai berjalan di pesawat, seolah-olah hambatan angin dan suhu tidak berpengaruh sama sekali. Dia turun di depan kokpit.

"P, perempuan? Tidak, tapi, eh?"

"Wha-, wha-, wha-wha-wha-wha-"

Pilot yang berdarah dari kepalanya dan Yosef benar-benar membuat wajah lucu. Kopilot terbaring karena tertembak. Sepertinya dia masih bernapas berat, tapi mungkin dia hanya bisa mempertahankan hidupnya hanya beberapa menit lagi. Yue, saat diselimuti cahaya emas juga, dengan tenang mengarahkan ujung jarinya ke kopilot itu.

Segera, cahaya samar menyelimuti kopilot dan menyembuhkan lukanya.

"Ka, kau-. Ini, monster-"

Yosef menduga alasan mengapa dia tidak bisa menghubungi rekan-rekannya di area penumpang dan mengangkat suara marah yang gemetar. Lalu, dia mengarahkan pistolnya ke Yue yang berada di luar kokpit dan dia akan menarik pelatuknya. Dia berencana menabrak pesawat ini. Setelah sejauh ini, dia bahkan tidak ragu memikirkan sesuatu seperti menghancurkan jendela kokpit.

Tapi,

"......'Jangan bergerak'."

"-"

Tentu, gerakannya dihentikan dengan mudah. Pilot itu bingung pada Yosef yang gerakannya mengeras dengan sekejap seperti batu. Tapi, pada saat berikutnya, sosok Yosef lenyap ke udara tipis.

Yue teleport dia. Yosef muncul tepat di atas pesawat di titik buat kokpit. Ya, ia muncul di bagian luar pesawat jumbo yang terbang di ketinggian delapan kilometer dengan kecepatan beberapa ratus kilometer per jam. Selanjutnya, dia melihat ke atas dengan kedua tangannya terbentang seolah-olah dia disalibkan, dia benar-benar terpasang di puncak pesawat.

"......mati sambil membeku."

Yosef membuka lebar matanya. Biasanya manusia normal akan segera kehilangan kesadaran dalam kondisi ini, namun ia diberi perlindungan pasokan dingin dan oksigen dengan kejam, jadi ia tidak akan mati dengan mudah.

Yue terbang mundur. Dia mengepakkan sayap emasnya dan kemudian dia terbang sambil mencocokkan kecepatannya dengan kecepatan pesawat terbang. Melihat dari sudut pandang pilot dan kopilot yang telah menemukan kesadarannya, sepertinya ada seorang gadis yang mengambang santai di depan pesawat terbang.

Yue mengayunkan senyum pada kedua orang yang menatapnya dengan takjub dan,

"……Lakukan yang terbaik."

Setelah mengatakan itu, sosoknya lenyap dengan puff.

Bahkan setelah Yue lenyap, pesawat itu masih diselimuti cahaya emas. Hanya ada satu mesin yang masih beroperasi, namun pesawat masih bisa mempertahankan ketinggiannya. Kesulitan dalam uji coba itu naik, tapi secara misterius kedua pilot itu tidak merasa cemas dengan pesawat yang menabrak.

"......William. Aku seorang kriminal"

"Kapten……"

Si pilot memegang stik kontrol sambil memeras kata-kata itu dari tenggorokannya. Mendengar itu, si kopilot William membuat ekspresi rumit yang tidak bisa mengatakan apapun. Dari pembicaraan para teroris, dia menduga keluarga pilot tersebut diculik dan dia mengancam keluarganya akan terluka tepat di depan matanya. Mungkin karena dia bisa melihat ekspresi pilot yang dipenuhi kepahitan, bahkan sekarang setelah dia hampir meninggal William tidak dapat mengatakan apapun tentang fitnah.

Si pilot menceritakan hal tersebut kepada William.

"Tapi, Tuhan telah memberitahu kriminal sepertiku, hiduplah. Lakukan yang terbaik, mengantarkan penumpang pulang dengan selamat. Kalau tidak setuju dengan ini, maka aku akan tetap diam dan memberikan kontrol padamu. Tapi, kalau——"

"Kapten. Aku juga punya keluarga. Jika anakku memasuki pengalaman yang sama seperti anakmu, keyakinan bahwa aku bisa bilang akan memprioritaskan penumpang masih...... sesuatu yang tidak kumiliki."

Kata-kata pilot diputus di tengah oleh William. Dan kemudian, dia mengangguk dengan ekspresi serius saat kembali ke kursi kopilot. Sikap itu ditunjukkan dengan lebih fasih daripada kata-kata, sehingga dia akan segera menyerahkan pesawat ini ke pilot.

"......terima kasih. Ini adalah penerbangan terakhirku. Tidak peduli apa yang terjadi, aku bersumpah aku akan mendaratkan pesawat ini dengan aman."

"Ini akan baik-baik saja, Kapten. Lagi pula, perlindungan dewi itu bersama kita."

"Ya kau benar."

Wajah kapten itu berubah dengan susah payah. Itu adalah ekspresi rumit yang merupakan perpaduan antara lega dan menyesal, rasa syukur dan permintaan maaf, dan berbagai perasaan lainnya.

(Dewi. Tolong, kumohon tidak peduli seberapa tak tahu malu suara ini. Keluargaku...... .tolong-)

Kapten tidak bisa tidak berdoa seperti itu di depan keajaiban yang dia saksikan.

Setengah hari kemudian, pesawat compang-camping yang diselimuti sinar emas mendarat dengan aman. Di tengah bandara yang sedang gempar akibat situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, sang kapten yang sedang menerima pertanyaan mendengar bagaimana keluarganya diselamatkan oleh seorang wanita cantik bertelinga kelinci. Lalu, dia menjadi orang beriman yang tekun pada dewi emas dan wanita cantik bertelinga kelinci.



AN: Seperti yang kuduga, aku perlu membaginya.

Aku akan update jam 8 atau 9 malam
Arifureta After 12

Diposkan Oleh: setia kun

0 Komentar:

Post a Comment