21 December 2016

Hyaku ma no Shu Bab 3

Sengaja kasih ini, banyak yg copas--
http://setiakun.blogspot.com
Jangan yg lain tetap di sb translation

BAB 3 MEREA/MEA


Setelah dipandu oleh malaikat pencabut nyawa, tubuhku melambung ke langit.

Alasan mengapa aku tahu bahwa itu sebenarnya jiwaku yang terbang karena aku melihat bekas tubuhku.

— Ia terenyum hangat di wajahnya, tubuhku.

Atau tubuh yang digunakan untuk menjadi milikku.

“Mulai sekarang, kau akan memulai perjalanan ke duniaku.“

Dunia.

Karena itu adalah malaikat pencabut nyawa yang mengatakan hal itu, apakah itu dunia roh atau sesuatu seperti itu?

“Tanaman dunia lain yang kita kirim mekar di akhir hidupmu. Tentunya, itu juga kehendak tanaman dunia lain agar jiwamu menyeberangi dunia.“

“Tanaman dunia lain?“

“Ya, tanaman dunia lain. Menghubungkan dunia yang berbeda bersamaan, itu adalah tanaman yang aneh.“

Setelah sinyal dari tangan malaikat pencabut nyawa tersebut, kami naik menuju langit.

Meskipun aku memiringkan kepalaku dalam kebingungan, selain senyum lembut dari malaikat pencabut nyawa itu, aku diberi penjelasan.

“Kau akan paham setelah tiba di sana. Makna di balik kata-kataku. Sebuah penjelasan yang tepat akan tiba setelah kita menyeberang ke sisi yang berlawanan, sehingga untuk saat ini fokus pada memegang tanganku.“

“—Un, aku mengerti.“

Dengan mengatakan itu padaku, aku memegang tangan malaikat pencabut nyawa erat-erat.





Menyeberangi dunia.

Mengatasi batas dunia.

Aku punya perasaan bahwa aku mendengar suara waktu.

Dengan itu dalam pikiran — kesadaranku memudar.

Dan setelah itu, ke mana kita pergi, atau ke mana kita tuju dan ke mana kita tiba, aku tak bisa ingat dengan benar.

Tapi, sensasi kehangatan aneh tangan malaikat pencabut nyawa itu, meskipun kesadaranku memudar, telah masih ada.





-





”——“

”——a“

“-—rea“

Dengan suara yang jelas perlahan memasuki telinganya, akhirnya pria itu sadar kembali.

“Kau sudah bangun, [Merea]?“

Pria itu membuka matanya, masih tak ada keyakinan dalam dirinya.

Atau tepatnya ia masih tak ada keyakinan pada tempat di mana ia berada.

Fakta bahwa suara itu masuk telinganya memang benar.

Bahkan sensasi tubuhnya ada di sana.

Tapi,

— Terasa tangan malaikat pencabut nyawa beberapa waktu lalu....

Ingatan itu ditarik ke ruang berongga dengan tangan malaikat pencabut nyawa ini yang samar, rasanya seakan ruang cekung itu mengganggu kognisi tubuhnya.

“Ini memang roh Merea.“

“A….“

Tiba-tiba sebuah wajah masuk di sudut pandangnya.

— Itu wajah malaikat pencabut nyawa.

Pada saat itu, ia akhirnya mengerti di mana dia.

“Pagi, Merea.“

“Me... rea?“

“Ya, itu namamu. Sesaat sebelum kau menyeberangi dunia, kami telah memutuskan namamu seperti itu.“

Malaikat pencabut nyawa itu mengatakan “Ayo kita lihat“ melambaikan tangannya dan membimbing penglihatannya, dan bergerak sesuai dengan itu.

Ia melihat banyak roh di sekelilingnya.

Substansi tubuh mereka kurus.

Transparan.

“Ini mungkin beneran dunia roh“ bahkan dengan itu belum memasuki pikirannya, ia sudah memutuskan dalam pikiranku bahwa mereka adalah roh.

“Apa yang…“

“Tak apa-apa, tenang, Merea. Kau hidup. Kau hanya menyeberangi dunia. Setelah jiwamu meninggalkan bekas tubuhmu dari dunia yang berlawanan, kami telah memanggilmu ke dunia ini. Dalam kosa katamu, kau telah bereinkarnasi.“

Bereinkarnasi.

Pria yang pernah bertanya-tanya apa yang akan terjadi setelah kematian, pada saat itu akhirnya mengerti.

Tubuh kedua yang ia pindahkan ke dalam, untuk pertama kalinya telah tersadar.



Pria itu — Merea, yang tengah diawasi oleh roh-roh untuk saat ini, adalah dalam keadaan linglung dan kesadarannya melayang.

Setelah itu, akhirnya ia memperoleh kesadaran tubuh barunya.

Dibandingkan dengan tubuh barunya, bekas tubuhnya tampak lebih besar.

Dan berpikir tentang hal itu, rasanya ini seperti ukuran anak laki-laki.

Tetapi bahkan untuk anak laki-laki, itu kecil.

Atau lebih tepatnya, di sebanding dengan mereka yang usia tersebut bisa disebut “Anak laki-laki“, rasanya jauh lebih muda.

Dia berdiri.

Dengan sudut pandang yang lebih tinggi, sudut pandangnya masih lebih rendah dari roh sekitarnya.

“Tubuh ini—“

“Tubuh yang dimodelkan pada fragmen dari jiwa kita. Yah tubuh bayi takkan mampu untuk berdiri di lingkungan yang keras dari gunung suci. Meskipun dengan mengatakan itu, tubuh anak lima tahun tak berbeda jadi jangan memaksakan diri.“

“Bukannya kau malaikat pencabut nyawa?“

“Aku?“

Tiba-tiba, Merea melirik pada wajah malaikat pencabut nyawa yang membawanya ke tempat ini.

Wajah cantik tak bergender, dengan sikap yang ada suasana lembut.

Tapi, tubuhnya pun transparan.

Dia lebih seperti roh.

“Aku yang di antaranya telah tinggal di sekitar seratus tahun yang lalu. [Flounder Crow] adalah apa yang mereka panggil padaku. Keberadaan dalam pahlawan usang.“

“Seorang pahlawan? Yang sebelumnya ratusan tahun yang lalu?“

Merea tak bisa segera memahami kata-kata Flounder.

“Yah, itu adalah cerita yang sangat lama dari masa lalu. Aku sudah mati sejak lama. ‘Aku‘ yang sekarang adalah roh yang berada di Sacred Mountain, Lindholm untuk menghilangkan penyesalanku, seperti keberadaan samar.“

“Bukankah tempat ini dunia roh atau sesuatu?“

“Kau salah. Dunia yang kau bilang itu berbeda dari yang satu ini. Membicarakan hal itu dari jiwamu, lebih tepatnya bahwa ini dunia paralel.“

“— Dunia paralel.“

Gumam Merea saat menatap sekilas pada kedua tangannya.

“Kita semua memanggilmu ke sini bermaksud untuk membersihkan penyesalan kita.“

Meskipun Merea mulai memahami kata-kata Flounder karena cara penalarannya. Kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan yang tak jadi lebih jelas.

“Kenapa? Kenapa — aku?“

Semua pertanyaan itu telah diringkas menjadi kata-kata.

“Itu karena kau menumbuhkan tanaman dunia lain. Orang yang akan menyeberangi tanaman dunia lain adalah orang yang dipilih. —Yah bagi kita itu adalah sesuatu seperti legenda. Tapi percayalah, bahwa tanaman ungu itu tumbuh di sini, dan bunga lainnya mekar itu untukmu, itu karena pilihanmu.“

“Tanaman ungu....“

Mekarnya bunga yang indah pada saat-saat terakhir, tanaman itu.

Itu adalah bunga yang datang untuk bertemu jiwaku.

“Betul. Tanaman ungu itu terhubung dengan dunia ini dan dunia kau berasal. Aku hanya membimbingmu supaya kau tak tersesat.“

“Apa aku, beneran hidup?“

“Hidup memang, berbeda dengan seratus roh yang berada di sini, kau pasti hidup. Dibandingkan dengan jiwa-jiwa kita yang hanya berkeliaran, saat sekarat dengan penyesalan, jiwamu penuh dengan kehidupan.“

“Seharusnya aku sudah meninggal...“

“Hanya di dunia kau berasal. [Wadah]-mu hanyalah bekas esensi kehidupan. Tapi, bukan berarti jiwamu telah meninggal.“

“Benarkah... itu?“

“Benar, gitu.“

Merea mulai melihat-lihat sekitar lingkungannya.

Melakukan hal itu, seakan tak mampu menahan diri lagi, roh yang lain telah muncul di hadapannya dan mulai berbicara.

“Oi, jangan terlalu ceroboh dan suram, kau hidup, lho? Mendengar percakapan kalian, kau telah mengalami kematian di wadah dari dunia lain. Lalu, kau harus senang bahwa kau masih hidup! Mempunyai tubuh menakjubkan, tahu! Toh, kau bisa merangkul seorang wanita!“

“Tunggu, kau otak isi otot diam sebentar. Merea sedang bingung, tahu? Karena ia baru saja bangun sehingga ia masih belum bisa memahami situasinya.“

Roh dengan tubuh besar sedang diberitahu oleh roh wanita dengan tubuh tinggi dan ramping.

“Memahami? Biarkan dia menaruh perasaan ke dalam dulu. Meskipun kita hanya seperti ini setelah kematian kita, Merea yang sekarat baru-baru ini, telah kembali memasuki tubuh baru yang kau kenal? Dibandingkan dengan kita, itu rumit! Jadi kalau kau tak membiarkan dia memilah perasaannya, itu tak baik!“

“Aku — Aku sudah tahu! Tak perlu untuk membuat wajah tak menyenangkan begitu. Maaf untuk mempercepat sesuatu, Merea.“

Pria itu menunduk dengan patuh, dan wanita dengan senyum di wajahnya melambaikan tangannya.

“Ah.. Tak apa-apa...“

“Hal pertama, Duduklah Merea. Mari aku jelaskan dengan benar.“

Saat Flounder mengatakan itu, Merea mulai duduk di tempat itu.

Beristirahat tangannya pada batu kasar, ia miring ke belakang dan mulai melihat ke atas di langit.

— Awan dekat.

Warna langit dari tempat yang tak berbeda dengan langit dia lihat di jendela kamar rumah sakit.

Melihat langit itu, untuk perasaan pertama kali mulai merangsek ke dalam tubuh barunya.

— Aku sudah memulai hidup baru lagi ya?

Setidaknya untuk Merea, dia lebih bahagia daripada apa pun karena itu.
Hyaku ma no Shu Bab 3

Diposkan Oleh: setiakun

0 Komentar:

Post a Comment