02 February 2018

Campione! v1 7-2

Sengaja kasih ini, banyak yg copas--
http://setiakun.blogspot.com
Jangan yg lain tetap di sb translation

Bagian 2

Taman Hamarikyu berada di tepi Teluk Tokyo.

Air di dalam taman diambil dari laut.

Dengan Distrik Tsukiji sebagai tetangga, ia juga memiliki pasar ikan dan pasar hasil panen di dekatnya.

Setelah dinding luar, Godou terus berlari cepat di dalam hutan lebat yang indah itu.

Dia dikelilingi pepohonan, berumur lebih dari seratus tahun, dengan bau tanah dan tanaman hijau di sekelilingnya. Tapi itu adalah taman buatan manusia, dan setelah lima menit berlari, dia sudah meninggalkan hutan.

Kolam itu penuh dengan air laut.

Godou telah tiba di sebuah plaza yang sangat luas.

Dia diam-diam menunggu di sana untuk kedatangan Athena.

Dia sudah mengerti semua informasi tentang sang dewi. Tapi jika dia bisa mengalahkannya dengan pengetahuan saja, maka dia tak perlu memaksakan dirinya begitu keras. Lebih penting lagi, ia perlu memahami karakter lawannya dan lingkungan sekitarnya.

Untuk merebut peluang kemenangan, kemudian tekan maju untuk mengalahkan musuh.

Ketika Godou masih bermain bisbol, dia dipuji sebagai catcher dengan kepemimpinan tak kenal takut dan berani, sementara di atas pelat arena, dia dikenal sebagai pembawa kemenangan yang bisa dengan tenang menganalisis situasinya dan menentukan waktu dengan tepat untuk memukul.

Teliti musuh dengan hati-hati, beradaptasi saat kesempatan tiba. Ini sudah biasa baginya.

Kemenangan atau kekalahan semua bergantung pada kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri.

Tak peduli betapa terperinci rencana pertarungan, kemenangan tak bisa dipastikan.

Tak peduli seberapa besar kekuatannya, kemenangan tak dapat diyakinkan.

Bukan yang kuat atau benar yang akan meraih kemenangan, tapi kemenangan yang akan dinyatakan kuat dan benar.

Mungkin keyakinan ini adalah alasan terbesar mengapa Godou menjadi MVP berkali-kali.

"Pilihan engkau adalah medan perang ini, sebuah taman lusuh. Manusia memang menyukai tipu muslihat semacam itu, manusia pulau ini sungguh begitu. Daku telah mengunjungi banyak negara, tapi jarang bertemu orang-orang yang menutupi begitu banyak bumi dengan batu, untuk menyangkal kegelapan sampai batas tertentu."

Bergerak di atas bebatuan, ular dan Athena akhirnya menyusul.

Ia muncul setelah merobek dinding, yang jatuh seperti kertas di bawah ketinggiannya yang lebih tinggi, dan menghancurkan pohon-pohon di bawah tubuhnya.

"Tolong bawa kritikmu terhadap peradaban lain di tempat lain. Kalau kau suka menjalani kehidupan yang riang, cepatlah kembali menuju kedalaman pegunungan Eropa. Aku suka membaca di malam hari jadi aku ingin cahaya; Untuk memasok sayuran secara teratur kita membutuhkan pestisida. Aku tak punya waktu untuk menemani kehormatanmu untuk menjadi egois."

"Begitulah kesombongan manusia. Menjelang fajar, tidur di malam hari, diberkati bumi untuk panen melimpah, menikmati kemewahan kehidupan, akhirnya mati karena kelaparan dan memasuki gerbang dunia bawah. Daku percaya ini yang terbaik?"

"Seperti yang diharapkan dewi di antara dewi...... lebih buruk dari Marie Antoinette sekalipun."

Bicara tentang pendapat kesalahan, mau tak mau Godou mengeluh.

Tapi kalimat yang terkenal itu pun 'Jika tidak ada roti, biarkan mereka makan kue' telah disesuaikan untuk penggunaan kreatif oleh keturunan......

"Cukup basa-basinya. Menemukan cara bertempur. Mari kita bandingkan kekuatan bela diri daku dan engkau."

Athena menyatakan dengan suaranya yang elegan.

Dengan ini sebagai sinyal, ular beton raksasa itu menyerang Godou yang jauh lebih kecil.

Seperti sedang mempersiapkan untuk menghancurkan dirinya di bawah tubuh besar itu.

Bahkan sebagai pembunuh dewa, jika dia hancur oleh sesuatu yang berat, mustahil menghidupkan kembali dirinya sendiri.

Godou buru-buru lari.

Jika dia tidak mundur segera, maka dia akan mati di sini. Pedang emas—yang hanya dimiliki oleh inkarnasi [Prajurt]; sebuah senjata yang mampu membunuh dewa-dewa.

"Ular—adalah simbol kekuatanmu, atau harus kukatakan sifatmu."

Godou mulai dengan pelan mengucapkan mantranya.

Inilah pedang, pedang pembunuh dewa dari kebijaksanaan.

"Kau selalu dewi yang berhubungan dengan ular. Serta burung hantu—dengan ikatan mendalam dengan burung."

"Oh? Kusanagi Godou, engkau sudah menyelidiki asal usulku?"

"Hanya karena aku membutuhkannya. Saat ini, aku sudah memiliki sekitar delapan puluh, sembilan puluh persen pemahaman tentang dewa macam apa kau; untuk menjelaskan aspek kuncimu, itu akan menjadi [Ular]."

Kilatan tanpa henti.

Titik-titik cahaya emas mekar dan mengelilingi Godou, berkedip terus-menerus seperti bintang di langit.

"Berbicara tentang ular menyiratkan Medusa, karena Athena dan Medusa dulunya adalah dewi yang sama. Kedua dewi asing ini menyebar dari Afrika Utara dan ke Yunani."

Didorong oleh Athena, ular raksasa itu menggilas rumput yang subur dan kotoran di sekitar daerah itu, lalu melemparkannya ke arah Godou.

Ular yang merayap itu tampak seperti sungai yang mengalir di seluruh bumi.

"Menelusuri kembali ke sumber, kau adalah monster ular—tidak, dewi ular. Selanjutnya, ibu Athena dari Mitologi Yunani, dewi kebijaksanaan Metis, dewi itu adalah kau."

Tepat saat Godou hampir dihancurkan, ular raksasa itu menghentikan langkahnya.

Itu tak berhenti dengan sendirinya.

Sebaliknya, cahaya emas yang mengelilingi Godou memblok tubuh ular raksasa itu, lalu memaksanya mundur.

Setiap sisik ular yang menyentuh cahaya terlepas seperti benda yang melintas tajam.

"Itukah mantra pedang!? Senjata tadi!"

"Kau bukan dewi Yunani. Lahir dari Afrika Utara, disembah sebagai dewi bumi oleh seluruh Mediterania. Dengan banyak nama dan penampilan. Metis, Medusa, Neite, Anata, Atana, Atona, Asherat...... semuanya adalah salinan wanita yang menyebut dirinya Athena, dengan istilah lain saudara perempuanmu."

Akhirnya, Godou mengeluarkan [Pedang] secara penuh.

Pada saat terhuyung-huyung, seberkas cahaya keluar dari pedang, memutuskan ular beton raksasa Athena menjadi dua dalam sekejap.

Kerikil dan pasir yang membentuk setengah ular jatuh ke tanah dengan suara menggelegar.

Tubuh ringan Athena perlahan turun.

"Sungguh disesalkan, Kusanagi Godou! Engkau yangaling mengancam daku dengan [Pedang]! Jangan membuat daku mengingat masa lalu yang terlarang seperti itu!"

Bertentangan dengan pendaratannya yang sempurna, wajah Athena dalam kemarahan yang besar.

Inkarnasi kesepuluh Verethragna, [Prajurit].

Kemungkinan menakutkan dari inkarnasi ini, satu-satunya yang mampu menggunakan [Pedang], akhirnya diturunkan ke Athena.

"Kau, ditambah pendahulu Isis dari Mesir dan Ishtar Babel, semua adalah keturunan dewi ibu. Kau bukan hanya dewi bumi, tapi juga dewa gelap dunia bawah, begitu pula dewi kebijaksanaan surgawi."

Setiap kalimat Godou bicarakan menjadi mantra, yang segera larut dalam cahaya keemasan.

Cahaya itu terbentuk menjadi pedang tajam, yang mampu memotong sang dewi.

Karena amarahnya yang intens, kecantikan Athena tak lagi menunjukkan sikap riang yang pernah dimilikinya.

"Pernah ditemani tiga kepribadian, menjadi dewi trinitas—ini adalah karakter Athena. Karakter dewa perang hanyalah perpanjangan yang ditambahkan pada era yang berubah, yang mengurus kematian dunia bawah dari bencana terbesar, yang berhubungan dengan perang untuk menjadi dewa konflik, semuanya masuk akal."

"Engkau sudah gila!"

Panah dan busur tiba-tiba muncul di tangan Athena.

Sambil menarik tali busur dengan kencang, dia melepaskan panahnya. Seperti yang diharapkan dari dewa perang, anak panah itu langsung meluncur ke dahi Godou.

Tapi dengan sekejap [Pedang], anak panah itu ditangkis.

"Kemudian, kunci kelahiran kembali dirimu karena trinitas adalah [Ular]!"

"Jangan bicara lagi! Masa lalu daku tidak akan ternoda oleh pemuda sepertimu!"

Kali ini, empat anak panah muncul di tangan kanan Athena.

Membacakan keempatnya di busur, dia secara bersamaan menembak mereka.

Panah yang tampaknya aneh tapi sangat kuat.

Namun panah ini semua dibelokkan oleh [Pedang], tersebar di tanah.

"Meskipun [Sapi], [Domba], dan [Babi] semuanya telah melambangkan dasar panen. Sebenarnya, kau juga adalah nenek moyang sapi yang menjelma—kecuali karaktermu adalah [Ular]; Itu, adalah kunci kuno Athena."

Bahkan sekarang, Godou terus merapal saat cahaya tak berujung terpancar darinya.

Begitu ciri-ciri dewa yang berlawanan benar-benar disadari olehnya, inkarnasi [Prajurit] akan mengungkap kekuatan sebenarnya.

Mengubah mantra menjadi sinar keemasan, kekuatan [Pedang] yang bisa memotong daging para dewa dan kekuatan dewata mereka.

Ini adalah kartu truf terbesarnya untuk serangan dan pertahanan.

"Pada akhirnya, kau bukan hanya dewi yang memegang rahmat bumi tapi juga kelahiran kehidupan, pertumbuhan, kedewasaan, penuaan, akhirnya mati, sama seperti empat musim. Untuk melahirkan dan tumbuh di musim semi, untuk menikmati di musim panas, untuk panen di musim gugur, untuk layu di musim dingin."

Athena menjadi cemas dari hal ini dan memulai pendiriannya, mengayunkan pedangnya yang dipegangnya.

Meski diliputi oleh cahaya [Pedang], dia terus dengan berani menutup jarak.

Dan porsinya yang kuat dan tajam......

Mudah dihindari oleh Godou.

Sebelum dia menyadarinya, dia sudah melihat gerakan dewa; Ini juga merupakan kekuatan dari bentuk [Prajurit].

"Namun orang-orang di dunia kuno sama sekali tidak menerima berkat bumi. Karena bencana alam dan fenomena yang tidak biasa lainnya, lebih dari separuh panen akan hilang—sehingga dewi ibu tidak hanya memberi berkat, tapi juga menjarah kehidupan selama musim dingin dan membawa bencana selama suasana hati yang buruk sebagai dewa yang berbahaya. Tanpa ini, itu tidak masuk akal."

Godou mencengkeram [Pedang] di tangan dan berayun ke arah Athena.

Cahaya itu berkelebat sekali, dua kali, tiga kali, dan terus berlanjut.

"O......"

Untuk menghindari mantra itu, Athena terpaksa mundur.

"Begitulah [Ular], melalui beberapa penumpahan kulit, perputaran tanpa henti antara hibernasi dan kebangkitan, yang menjadi makhluk yang mewakili siklus kematian dan kelahiran kembali, dari musim bergulir. Dibandingkan dengan [Sapi] panen dan kasih sayang, itu adalah ular, dengan rahmat hidup dan momok kematian, itu benar-benar layak menjadi dewa."

Bagi orang-orang zaman kuno, sangat jarang menemukan makhluk dengan eksentrisitas dan misterius ular itu.

Memisahkan penampilan luarnya dengan terus melupas kulitnya, berhibernasi untuk waktu yang lama selama musim dingin, diikuti oleh kebangkitan saat musim semi seolah-olah bangkit dari kematian.

Dengan mudah menjembatani jurang antara musim dingin dan musim semi, itu benar-benar dewa abadi.

Musim dingin—dewa yang membawa kematian, tapi juga dewa padang gurun dan dunia bawah.

Begitulah hubungan antara Athena dan [Ular], dan juga alasan mengapa dia adalah dewi bumi dan dunia bawah.

Namun dunia bawah yang dibayangkan orang kuno selalu terbaring di bawah tanah yang gelap.

Dunia musim dingin terselubung kegelapan.

Demikian pula, waktu yang didominasi oleh kegelapan malam hari, dikhawatirkan menjadi bagian lain dunia bawah, sehingga Athena juga adalah dewi kegelapan.

"Hormatilah kekuatan kata-kataku, biarkan keadilan terungkap! Untuk mantra ini sangat ampuh dan fasih. Pedang kebijaksanaan yang memanggil kemenangan —Athena, bagaimana perasaanmu sekarang? Pedang ini dibuat khusus untuk melenyapkanmu. Penggunaannya akan menjamin kemenanganku atasmu."

Godou meneriakkan mantra saat dia berputar-putar.

Setelah mengungkapkan kartu truf terakhirnya padanya, bagaimana Athena akan membalas?

Situasi yang luar biasa telah kembali ke keadaan yang seimbang. Tapi dengan kekuatan mereka sendiri, sang dewi masih memegang keuntungan; Jika pertempuran sengit berlanjut, dia akan mendapatkan kembali kesempatan untuk melakukan pembalasan.

"Kusanagi Godou......daku telah meremehkan dirimu."

Kata Athena dengan tenang dan serius.

Seperti yang diharapkan dari dewi kebijaksanaan, dia memulihkan ketenangannya begitu cepat.

Apa boleh buat. Tidak ada kemenangan mudah saat bertarung melawan dewa.

"Meskipun engkau muda, belum dewasa, tapi masih seorang raja iblis, dan daku yang merebut kuasa dari kami para dewa—dari mantra yang baru saja diucapkan, daku telah mengerti."

Athena menatap tajam pada Godou.

"Verethragna! Dewa yang engkau bunuh adalah Verethragna! Dewa penaklukan, sangat dekat dengan temanku Heracles dan Indra di timur jauh. Dalam perbudakan kepada raja dewata yang baru, [Dewa Pemberontak] yang menyerang dewa-dewa kuno dengan tombaknya."

Godou tiba-tiba menggigil.

Jika sang dewi mulai berhenti meremehkan dia, maka dia akan menjadi lawan yang sangat menakutkan.

......Tapi mungkinkah itu benar? Mungkinkah dia benar-benar bertempur dengan serius dengan manusia yang lemah? Detail itu akan menentukan kemenangan atau kekalahan.

"Dewa perang itu adalah tentara salib dewa-dewa kuno. Bila engkau bisa membunuh Verethragna, maka penggunaan pedang dewa itu diharapkan......apakah begitu?"

Athena tersenyum tipis saat dia menatap Godou dengan tajam.

"Verethragna bukan hanya dewa kemenangan, tapi juga penjaga rakyat dan kerajaan, penjaga pribadi Dewa Persia Mithra. Mithra adalah inkarnasi matahari, jadi Verethragna terhubung dengan matahari."

Dia menyadarinya.

Athena sudah menyadari kartu terakhir yang Godou simpan.

Apakah ini kekuatan dewi kebijaksanaan? Untuk langsung menyadari bahkan ciri-ciri dewa asing, itu pasti curang! Ini akan menjadi bermasalah.

"Meskipun daku tak tahu berapa banyak kekuatan Verethragna yang engkau komandoi, tapi engkau dapat Otoritas matahari. Untuk melenyapkan kegelapan daku, yang paling mampu adalah sinar matahari."

Kedua mata Athena menyipit.

Kedua mata itu hitam gulita seakan dipenuhi kegelapan. Mereka sepertinya menutupi semua hal dalam pandangannya, dengan dingin melihat Godou.

.......Mata mistik?

"[Pedang] yang ternoda dan mengerikan itu, tapi penggunaannya terlalu terang-terangan. Berusahalah untuk marah dan temukan kelemahan selama kesempatan? Daku telah menyadari taktikmu."

Membatu.

Membatu. Membatu. Membatu. Membatu. Membatu. Membatu. Membatu.

Segalanya akan berangsur-angsur membatu, asalkan memasuki pemandangan Athena.

Tanah tempat mereka berdiri berubah menjadi batu. Rumput yang bergoyang-goyang dengan sepoi-sepoi dan kelopak bunga yang indah juga berubah menjadi batu.

Pohon-pohon yang rimbun juga membatu, kolam yang penuh dengan air laut juga menjadi batu.

Athena sekarang menggunakan mata mistik Medusa, yang mampu membatu semua yang dilihatnya.

"Kematian sementara, peti mati batu—semacam itu juga merupakan kekuatan ibu kuno...... O, seperti yang diharapkan dari pembunuh dewa, engkau benar-benar bisa bertahan. Mantra harus benar-benar dituangkan langsung ke tubuh engkau, sangat merepotkan."

Kaki-kaki Godou, dari ujung kakinya sampai ke lutut, sudah benar-benar membatu.

Tapi semua yang ada di sekelilingnya sudah berubah menjadi batu, jadi situasinya bagus jika dibandingkan.

Athena mungkin ingin mengubah segalanya dari pandangannya menjadi batu. Untuk menggunakan kekuatan semacam itu, bahkan mengubah semua kota Tokyo menjadi kota batu adalah hal mudah.

Godou merasa takut.

Jika dia tidak menghentikan dewi ini, pasti akan ada malapetaka tragis.

"Mata mistik [Ular] Dewi Medusa, itu adalah bukti terbaik dari hubungan dekatmu dengan [Burung]."

Godou memasukkan [Pedang] dengan mantra baru, mempercepat kekuatan Otoritas untuk membersihkan petrifikasi.

Pedang emas mulai menari liar.

Dimanapun cahaya melanda, benda-benda yang membatu itu akan membuang kutukan itu, kembali ke penampilan asli mereka.

"Tiga Gorgon Sister, termasuk Medusa, tak hanya rambut ular tapi juga sayap emas di punggung mereka. Nama saudari kedua Eurayle berarti 'selebaran yang jauh berkeliaran', sementara saudari termuda Medusa adalah ibu dari Pegasus bersayap.

Potret Medusa telah tersebar di seluruh Mediterania.

Dalam potret ini, sang dewi memegangi ular dengan kedua tangannya, sementara seekor burung bertengger di atas kepala, jelas mewakili hubungan antara ular dan burung.

"Menghubungkan kau dan burung adalah bumi dan dunia bawah—kau adalah dewa yang mendominasi lebih dari dua dunia, sementara burung memiliki prana untuk terbang di antara dunia saat ini dan alam luar. Leluhur kita telah mempercayainya sejak dahulu kala di zaman kuno. Jiwa orang mati akan menjadi burung yang terbang ke langit, atau dipandu oleh burung ke dunia bawah.

Kaki Godou yang membatu kembali ke daging lembut mereka.

Peredaran darah juga kembali.

"Untuk perjalanan antara bumi dan dunia bawah, wajar bagi Athena dan burung itu menjadi satu. Sifatmu adalah [Ular]—tapi juga [Ular Bersayap]!"

"Engkau berusaha melukai dan mempermalukan daku, bahkan berharap bisa membuat daku kehilangan ketenangan. Daku tidak akan tergoda oleh itu!"

Setiap kali Godou menggunakan [Pedang], pandangan mistis Athena akan tumbuh lebih kuat.

Tanah yang membatu kembali normal oleh sinar emas pedang, lalu kembali menjadi batu oleh mata mistik hitam yang gelap.

Ketika keduanya saling berhadapan, lingkungan mereka telah mengulangi siklus itu beberapa kali, membatu menjadi batu abu-abu sebelum kembali ke bumi hijau.

"Awalnya kau adalah seekor ular bersayap, sebelum menjadi anggota Pantheon, kau adalah dewi kehidupan dan kematian yang disembah oleh orang kuno. Setelah ular bersayap dicemari oleh usia, sikap berubah akan menjadi Dewa Sesat Athena."

"Tutup mulutmu! Cara seperti itu tidak ada artinya!"

Meski tidak ada senjata yang saling bertemu, pertempuran itu semakin sengit dan ganas.

Tapi Godou hanya bisa menghentikan kata-katanya karena sangat sulit menemukan kelemahan Athena. Jika mereka terus melakukan pertarungan gesekan, kekuatan dewata yang luar biasa dewi itu pasti akan mendapatkan keuntungan.

Godou awalnya berharap bisa memutuskan pertandingan dengan serangan balasan.

Saat menghadapi lawan yang lebih kuat, harus membiarkan musuh menyerang, menghabiskannya, lalu serangan balasan begitu mereka mengungkapkan kelemahan mereka. Dia telah menyimpan kartu truf untuk saat yang begitu menentukan.

Dengan mantra dari [Pedang], dia bisa mengungkap pertahanan seperti tembok besi, memberikan banyak peluang kemenangan.

Namun, Athena sudah menyadari rencananya. Oleh karena itu dia menggunakan mata mistiknya untuk menahan Godou.

—Apa boleh buat. Tidak ada usaha, tidak ada hasil.

Godou menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk mengeluarkan kekuatan [Pedang].

"Dominasi bumi dan dunia bawah, dewi ular yang menguasai kebijaksanaan surga, pastinya merupakan eksistensi terbesar di antara para dewa. Tiada duanya, dewa di antara para dewa, amanat otoritas terbesar, Ratu Pantheon."

[Prajurit] menggunakan ofensif dan defensif [Pedang] adalah inkarnasi paling kuat untuk melawan dewa-dewa.

Tapi, keterbatasannya sangat parah.

Mantra dari [Pedang] tidak bisa digunakan tanpa batas waktu. Semakin lama digunakan, semakin kusam pedang itu jadinya, sampai itu menjadi pedang tumpul; Hal ini tidak berbeda dengan kenyataan.

Dan sama seperti otoritas Verethragna, inkarnasi tidak dapat digunakan terus menerus.

Tanpa satu hari pemulihan, penggunaan inkarnasi yang sama sekali lagi mustahil; Selama kondisi ini berada, Godou tidak bisa mengandalkan kekuatan brutal untuk mengalahkan musuh.

"Suatu ketika, kau adalah seorang wanita yang memegang kendali atas perintah kuno, yang memerintahkan manusia atas nama para dewa, sehingga pemimpin para dewa juga dewi—dewi dari ular bersayap. Tapi kau digulingkan dari takhta tertinggi oleh pasukan bela diri dari orang-orang yang memberontak, mengakhiri masyarakat matriarki."

Godou meneriakkan, untuk menempa dan menyempurnakan [Pedang] yang terkuat.

Menghabiskan semua mantra di sini, untuk menimbulkan luka kritis atas kekuatan dewata Athena.

Untuk menjepitnya dan membangun jalan untuk meraih kemenangan.

Bahkan rencana pertempuran yang paling rinci pun bisa terganggu oleh kondisi situasional, oleh karena itu fokusnya harus pada menanggapi keadaan yang berubah.

"Era sang Ratu telah berakhir, era sang Raja telah dimulai. Kekuatan dan kebijaksanaan tertinggi dari matriark keibuan berubah menjadi patriark yang ketat; Dari Zeus, para raja dewa lahir."

Saat ini di depan matanya sendiri berdiri mantan ratu dewi Mediterania.

Benar, mantan ratu.

Seorang ratu digulingkan paksa untuk taat.

Mantra yang mengekspos masa lalu Athena juga merupakan pedang paling tajam yang bisa digunakan untuk melawannya.

"Athena yang paling kuno terbagi, merendahkan martabat istri, saudari, atau putri dewa, kehilangan semua kemuliaan sebelumnya; mitologi diubah seperti itu."

"......Diam."

Gumaman Athena meluap dengan diam.

"Athena menjadi putri raja. Metis mempermalukan dan merampas kebijaksanaannya. Medusa bahkan terdegradasi menjadi monster. Selanjutnya, Hera dan Aphrodite dari Mitologi Yunani juga mengalahkan dewi ibu, dewi yang pernah memerintahkan kehidupan dan kematian yang serupa denganmu."

"Engkau disuruh tutup mulut! Mantra semacam itu diluar batas!"

Athena marah.

Itu pertanda baik, tapi dia masih belum kehilangan ketenangannya, jadi dia harus mengikuti rencananya dan langsung menyerangnya.

"Dewi ibu yang dikalahkan, digambarkan dalam mitologi sebagai ular bersayap, ular bersayap—yang juga merupakan naga. Naga jahat yang berdiri di dalam legenda dan mitos yang tak terhitung jumlahnya, dikalahkan oleh pahlawan dan dewa, adalah bentuk akhir dari dewi ibu yang dikalahkan dan diinjak!"

Mereka tidak diadili karena mereka monster jahat.

Tapi karena para pemenang menuntut legitimasi, mereka mendiskreditkan yang dikalahkan sebagai monster jahat, lalu menyebarkan cerita tentang dirinya sendiri yang mengalahkan kejahatan.

Karena ini, ular bersayap itu jatuh dari seekor hewan suci dan menjadi monster; ciri-ciri dewi ibu pada dasarnya ditolak. Dengan demikian, mantra ini akan menjadi [Pedang] yang hebat, yang mampu menyapu Athena sekalipun.

Cahaya emas berkumpul di tangan kanan Godou.

Godou menekan cahaya itu menjadi pedang panjang; Dengan cahaya cemerlang yang menyebar darinya, dia maju menuju Athena.

Bersiap untuk menghentikan pedang ini adalah sabit hitam Athena.

Sebilah sabit dewa kematian yang menyerap semua cahaya ke dalam kegelapan bilahnya.

Di antara pedang cahaya dan sabit kegelapan, Godou dan Athena akhirnya bentrok dengan keganasan.
Campione! v1 7-2

Diposkan Oleh: setia kun

0 Komentar:

Post a Comment