08 September 2017

Arifureta After 2

Sengaja kasih ini, banyak yg copas--
http://setiakun.blogspot.com
Jangan yg lain tetap di sb translation

PAGI HARI DI RUMAH NAGUMO
BAGIAN 2

AN: Sehubungan dengan sesi tanya jawab di [Tora no Ana] yang rencananya akan dilaksanakan pada 22 November, karena Shirakome didiagnosis menderita influenza, mendadak batal tergesa-gesa.

Silakan lihat detailnya di action report-ku.

Sungguh, permintaan maafku yang terdalam bagi mereka yang menantikannya.

Kupikir aku akan menjadi lebih baik jika aku bisa memulihkan diri di rumah.

Tolong jaga aku dengan baik.



Setahun setelah seluruh kelas SMA tertentu diculik diam-diam yang membuat kegemparan di dunia.

Awalnya, ketidakmungkinan sebuah kelompok penculikan di tengah hari di dalam sebuah sekolah dalam sekejap tanpa ada kelas lain yang tahu, dan ketidaksamaannya hilangnya kelompok makan siang yang tengah makan, pekerjaan rumah yang belum selesai, kursi yang ditendang, dan lain-lain, semua itu memanaskan media secara berlebihan terhadap kasus Mary Celeste modern yang terjadi di sebuah sekolah.

Namun, apa yang disebut sebagai aliran masyarakat terasa tidak berperasaan, bahkan ketertarikan terhadap peristiwa gaib tersebut tidak berlanjut lama. Setelah setengah tahun berlalu dengan berita tidak ada kemajuan nyata dalam waktu singkat itu, hanya ada seorang komentator kasar atau peneliti ilmu gaib yang menduga dirinya memiliki motif tersembunyi yang mencoba menggunakan kasus ini sebagai kesempatan mereka untuk membuatnya hebat yang terus berusaha menarik perhatiannya. Perhatian terhadap topik ini dari berbagai jenis sudut pandang, sementara media ditaburi topik baru satu per satu seperti selebriti yang bercerai atau berselingkuh, atau politisi besar yang masalah pribadinya disiarkan.

Seperti itu, media massa yang memanas tetap tenang dan ketertarikan orang mulai beralih ke topik lain, meski begitu pada saat itu keluarga dari murid yang masih menghilang tanpa informasi dan polisi masih panik mencari keberadaan mereka. Tapi, tak bisa mendapatkan satu pun petunjuk, setiap orang mulai diliputi oleh kelelahan dan pengunduran diri.

Shuu dan Sumire juga sama, mereka menjadi kelelahan karena terus mencari keberadaan anak mereka yang lenyap. Sambil sangat percaya bahwa Hajime aman, dan dia pasti akan kembali ke rumah, meski begitu mereka pasti bisa mendengar arus waktu yang mengalir deras dan suara keputusasaan yang perlahan-lahan mendekati mereka.

Agar Hajime bisa pulang kapan saja, mereka tidak pernah ketinggalan untuk membersihkan kamar Hajime bahkan sehari saja. Dan kemudian, setiap kali mereka membersihkan kamar, dinginnya kamar yang telah kehilangan pemiliknya membuat tubuh mereka dingin. Bahkan saat mereka berada di ruang tamu, atau saat mereka sedang makan, apa yang bergema di telinga mereka adalah suara anak lelaki mereka. Sementara memahami bahwa itu hanya halusinasi mereka, berkali-kali mereka masih tiba-tiba melihat sekeliling sekitarnya sebagai kejutan. Sudah berapa kali mereka berlari ke pintu depan setiap kali mereka mendengar suara kecil dari situ.

Bahkan "asosiasi keluarga" yang dibentuk bersama dengan semua keluarga murid yang hilang tampaknya hanya menginfeksi Shuu dan Sumire dengan keceriaan ke dalam hati mereka dari melihat wajah orangtua yang kehilangan ekspresi dari hari ke hari.

Lalu, hampir setahun sejak Hajime menghilang. Bagi mereka berdua yang berarti bayangan keputusasaan hanya akan menjadi lebih tebal.

Suara tik-tak jam dinding bergema terlalu jelas, Shuu yang melihat layar PC-nya tiba-tiba membuka mulutnya tanpa berpaling atau menghentikan tangannya yang sedang mengklik mouse.

"Sumire, bagaimana kalau segera tidur? Kemarin kau sudah bangun sampai larut malam?"

"Tidak masalah. Kalau kau mengatakan itu, maka kau sendiri, bukankah lebih baik kau tidur? Kemarin di tempat kerja, kau mendapat banyak masalah, kan? Kau hampir tidak punya waktu untuk tidur sama sekali."

Larut malam, Shuu dan Sumire yang telah kurus karena kegelisahan mereka tengah memeriksa papan buletin di PC dan memproduksi selebaran yang meminta informasi dengan gerakan yang seperti mesin terprogram. Mereka saling bertukar kata bahkan tanpa mengangkat wajah mereka untuk saling memandang.

"Tidak ada masalah dengan pekerjaan. Toh, orang-orangku bisa diandalkan. Bahkan saat presiden tidak berada di sana, itu benar-benar tidak masalah bagi mereka. Sebaliknya, aku hanya akan merepotkan mereka kalau aku pergi bekerja dengan wajah yang mirip hantu seperti itu, mereka bahkan akan mengusirku. Lagi pula, bukankah Sumire lebih buruk dariku? Kau melewatkan deadline-mu lagi, kan?"

"......Ya. Tapi, itu hanya sekali. Asistenku juga sangat baik."

Baik Shuu maupun Sumire, dalam satu tahun ini mereka sering libur dalam setahun ini dalam pekerjaan masing-masing mengelola perusahaan game atau serialisasi manga. Semuanya demi menemukan anak mereka. Biasanya hari libur semacam itu akan membuat mereka kehilangan kepercayaan sosial dari orang-orang di sekitar mereka, namun rekan kerja dan bawahan mereka yang tahu tentang keadaan keduanya menunjukkan pemahaman mereka dan bahkan bekerja sama dengan mereka secara proaktif, berkat itu mereka tidak melakukannya. Akhirnya menganggur.

Itu benar-benar pertimbangan yang diapresiasi, sehingga seandainya Hajime pulang ke rumah, tidak akan ada situasi yang rumit seperti dia menyaksikan kedua orangtuanya sama-sama menganggur. Ada juga faktor bahwa baik lingkungan kerja mereka istimewa dan juga bagaimana Hajime sering menunjukkan wajahnya di tempat kerja sehingga orang-orang di sana mendapat kesan baik kepadanya, sehingga orang-orang di tempat kerja orangtua Hajime juga sangat mengkhawatirkan Hajime dari bagian terdalam hati mereka saat Hajime lenyap setelah terlibat dengan situasi gaib yang tiba-tiba.

Tapi, tatapan orang-orang itu berangsur-angsur berubah menjadi tatapan yang dipenuhi dengan sangat disayangkan, seolah mereka melihat sesuatu yang menyakitkan. Tentunya pengunduran diri sudah semakin tebal di dalamnya. Tidak mungkin mereka bisa mengatakan apapun kepada orangtua yang keberadaan anak lelakinya tidak diketahui, tapi semua orang mulai berpikir "Mungkin saja, Hajime sudah......"

Tidak mungkin juga Shuu dan Sumire tidak memperhatikan atmosfer seperti itu, hal itu juga menjadi faktor yang memojokkan pikiran mereka dengan sia-sia, tapi mereka bisa meluangkan waktu untuk mencari Hajime seperti ini sekarang juga berkat orang-orang itu, jadi tidak mungkin mereka bisa melakukan sesuatu seperti meledak dalam kemarahan.

Hati mereka yang suram, sementara keduanya mengerti bahwa tidak mungkin mereka bisa beristirahat, mereka tetap bertukar kata-kata tanpa melihat saat saling merekomendasikan untuk beristirahat.

Setelah beberapa lama, Shuu dan Sumire masih terus bertukar dialog yang benar-benar kosong, tapi tak lama kemudian, setelah melihat papan informasi di internet yang bukan hanya informasi yang kurang masuk akal, namun dipenuhi dengan informasi palsu atau tulisan yang tidak masuk akal, akhirnya Shuu mengalihkan tatapannya dari layar monitor.

Dan kemudian, sambil mendesah dalam-dalam, dia meletakkan kedua siku di atas meja dan kepalanya ditunduk dengan kedua tangannya menutupi matanya.

"......Hajime. Dimana dia sekarang......"

"Sayang……"

Meskipun Shuu masih di awal separuh empat puluh, tapi saat ini dia tampak seperti pria tua yang kelelahan. Sumire yang melihatnya seperti itu juga menghentikan pekerjaannya dan mengangkat wajahnya.

"Sudah kuduga, bagaimana kalau kita beristirahat sebentar?"

"......Kau tahu itu mustahil, kan? Bagaimana pun, aku tidak akan bisa tidur nyenyak."

"Itu mungkin benar tapi......"

Kata-kata Sumire tersangkut di tenggorokannya. Apa yang dikatakan Shuu sepenuhnya benar, dia sendiri juga seperti itu. Tak peduli betapa lelahnya tubuh dan pikiran mereka, tapi hari demi hari api yang tidak nyaman di hati mereka hanya terus tumbuh dengan kuat. Hal tersebut mencuri kemampuan mereka untuk tidur nyenyak.

"Akan baik-baik saja. Ini masih setahun. Meski butuh waktu beberapa tahun, kita akan menemukannya tanpa gagal. Tidak mungkin aku akan runtuh sampai saat itu."

"......Kau benar. Seperti yang kau bilang."

Suaminya mengangkat wajahnya dengan senyum masam, meski begitu ada bayangan gelap yang tak bisa disembunyikan di sana. Sumire tersenyum padanya bahkan saat merasakan kekhawatiran, dan kemudian dia berdiri dari kursinya untuk berbaring dekat dengannya.

Tapi, sesaat sebelum dia bisa melakukan itu, tiba-tiba *pin poo—n* ada suara berbunyi dari pintu masuk.

Tentu, saat ini ketika hari sudah berganti tanggal, tidak mungkin ada orang yang mau berkunjung, jika itu adalah kerabat maka mereka seharusnya sudah menghubungi mereka lebih dulu, jadi mereka berdua saling bertatatp dengan curiga. Sampai mereka tidak dapat mencapai 'kemungkinan itu' segera, menunjukkan betapa kelelahan keadaan hati mereka.

Shuu mengangkat pinggangnya yang berat dengan perlahan, lalu dia mengambil gagang interkom. Saat dia melakukan itu, tentu saja sosok pengunjung diproyeksikan di layar......

[......Aa, itu, apa yang harus kukatakan......ini, aku di sini.]

Keadaan pengunjung mendadak yang tidak mampu memutuskan kata dengan lancar apa yang akan digunakan sementara tatapannya mengembara tanpa henti, jika orang-orang yang mengenal orang ini dalam setahun ini melihat sikap ini, mereka pasti akan menatap dengan takjub secara refleks.

Bahkan dari seberang layar, mereka tahu.

Atmosfer, tampilan, dan ketinggian orang ini berbeda dari ingatan mereka.

Meski begitu, mereka tahu.

Shuu dengan sempurna, dan langsung tahu. Orang itu, yang tampak canggung entah bagaimana dengan wajah mengerutkan kening yang terlihat bermasalah adalah......yang terus mereka cari, yang mereka yakini pasti akan pulang ke rumah......

—itu adalah putra kesayangan mereka

Dengan suara menampar, Shuu membuang telepon penerima dan membuka pintu ruang tamu dengan kekuatan seolah-olah dia menendangnya terbuka, bahkan tanpa menyembunyikan ketidaksabarannya, dia membuka kunci pintu depan dengan kasar, lalu dia membantingnya. pintu terbuka

Lalu,

"Aa......itu............aku pulang, Tou-san."

""Hajime—""

Suara Shuu tumpang tindih dengan Sumire yang mengejarnya tanpa disadari, mereka memanggil nama putra mereka dengan volume yang bisa merobek tenggorokan mereka. Pada saat yang sama, mereka memeluk anak lelaki yang menggaruk pipinya dengan canggung di depan gerbang rumah.

"Hajime–, kau, bajingan bodoh! Ke mana kau lari sampai sekarang—"

"Anak tolol–. Kau tahu betapa kau membuat kami khawatir!"

Ayah dan ibu sama-sama memeluk anak mereka, sangat kuat sampai sulit bernapas. Sekarang, saat ini, mereka membenarkan bahwa anak ini benar-benar ada di depan mata mereka. Sehingga dia tidak akan menghilang untuk kedua kalinya. Mereka memeluknya dengan kuat.

Lampu jalanan redup, dan pencahayaan keluar dari dalam rumah, dan kemudian bulan bundar yang sempurna di langit, dengan ringan menerangi keluarga yang menjadi satu sekali lagi, di tengah Hajime yang kaku dalam postur banzai saat dipeluk erat oleh keduanya

Hajime berpikir bahwa orangtuanya pasti mengkhawatirkannya. Dia yakin bahwa mereka percaya bahwa dia akan kembali ke rumah.

Tapi, meski begitu, sosok dan atmosfernya saat ini, meski warna rambutnya, rambut palsunya, dan tangan buatannya pun kembali ke penampilan bekas sebanyak mungkin, tapi saat ini dia pasti benar-benar berbeda dari bagaimana dia dulu.

Karena itulah, dia pikir mereka pasti akan merasa bingung. Dia bahkan memutuskan untuk mengatakan kata-kata yang meragukan seperti "Apakah kau benar-benar Hajime?" dalam kecurigaan. Bergantung pada situasinya, mungkin butuh meluangkan waktu untuk mencapai pemahaman, itulah yang dipikirkan Hajime di sudut hatinya.

Itu sama sebagaimana citra palsu Hajime menunjuk salah satu dari Tujuh Labirin Agung— di [Gua Es dan Salju di Lapangan Salju Schnee] sebelum ini, bahwa di kedalaman hati Hajime, ia memiliki rasa takut sendiri yang telah diakui oleh dirinya sendiri dan orang lain sebagai monster tidak bisa diterima oleh orangtuanya, itulah penyebab emosi Hajime tidak bisa diperhitungkan, yang sama seperti dirinya sendiri tapi juga tidak seperti dirinya sendiri.

Tapi, setelah dia mencoba membuka tutupnya, beginilah hasilnya. Shuu dan juga Sumire bahkan tidak memberi perhatian pada perubahan Hajime, mereka memeluknya erat-erat yang dipenuhi dengan keyakinan dan kemarahan, dan juga merupakan penghiburan yang tak berdaya.

Di dalam tubuh Hajime, emosi yang panas namun tanpa emosi kuat yang tak terkira jauh meningkat. Setiap pengalaman besar yang pernah ia alami di dunia lain, melewati otaknya seakan sedang mengalami revolving lantern.

Dan kemudian, hanya ada satu hal yang dipikirkannya.

—Aa, akhirnya, aku pulang.

Kedua lengan Hajime diam-diam memegang kedua orangtuanya. Lalu, dengan suara gemetar, dia mengucapkannya sekali lagi dengan suara kecil namun jelas.

"Tou-san, Kaa-san— aku pulang."

Shuu dan Sumire, dengan mata mereka yang masih dipenuhi air mata, memisahkan diri dari Hajime sejenak, dan dengan tatapan lurus, mereka memberinya kata-kata itu bersamaan dengan senyuman— pasti untuk Hajime, kata-kata ini adalah tanda yang memberitahunya tentang Hajime. Akhir perjalanannya yang panjang dan berbahaya dalam arti sebenarnya.

""Selamat datang di rumah, Hajime.""

Setelah itu, Hajime dan lainnya yang melihat bahwa para tetangga mengintip situasi dari celah antara gorden, kembali ke dalam rumah dengan penuh semangat.

Itu adalah rumah yang dia tinggalkan hanya selama setahun. Meski begitu, Hajime menyipitkan matanya dengan nostalgia, dia tidak dapat menahan diri untuk sedikit membelai tangannya di pagar dan hiasannya.

Memasuki ruang tamu, Hajime melihat sejumlah besar selebaran yang tersebar di atas meja. Dia mengambil satu ke tangannya dan menatapnya dengan saksama, setelah itu dia juga menemukan PC yang dibiarkan terbuka menampilkan situs yang meminta informasi orang hilang.

"......Sudah setahun setelah kau pergi, kita mencoba semua yang kami bisa untuk mencari petunjuk. Tapi, pada akhirnya, kita tidak bisa mendapatkan satu pun petunjuk. ......Hajime, kau, tidak, kalian semua, kemana kalian sudah pergi?"

"Juga, Hajime. Setahun yang lalu pada hari itu, apa yang terjadi?"

"......tentang itu. Menjelaskan hal itu sangat sederhana, tapi juga sulit. Ada banyak hal yang harus dibicarakan."

Tatapan mendalam anak mereka yang sudah tidak bisa disebut muda sama sekali, membuat Shuu dan Sumire menelan ludah. Dan kemudian mereka menebaknya. Hajime mengalami pengalaman luar biasa yang bahkan tidak bisa mereka bayangkan.

"Begitu. Lalu, biarkan aku meluruskan meja dengan cepat, kita akan banyak bicara setelah itu. Tunggu sebentar. Aku akan membuat teh susu lezat dulu."

"Yeah. Terima kasih, Kaa-san."

"Fufu, entah kenapa kau benar-benar terasa seperti orang dewasa."

Seperti itu, sambil minum teh susu manis dan hangat yang disiapkan Sumire, Hajime mengatakan bahwa sebenarnya kelompok tersebut menghilang kepada mereka berdua. Pengalaman Hajime terlalu padat untuk dikatakan semuanya. Oleh karena itu, dia hanya berbicara tentang ringkasan setiap poin penting, meski begitu pemanggilan ke dunia lain, bertahan di jurang maut, berpisah dengan teman-teman sekelasnya, menaklukkan Labirin Agung, pertempuran sengit yang legendaris......pada saat Hajime selesai membicarakannya, langit sudah mulai terang.

Hajime yang selesai berbicara tentang kejadian umum sudah mengosongkan cangkirnya yang telah diisi ulang beberapa kali, lalu dia menghela napas. Shuu dan Sumire juga mendesah lelah. Shuu mengusap matanya dengan jarinya sementara Sumire menjatuhkan tatapannya ke cangkir kosong, mereka terdiam karena merasa tersesat bagaimana tanggapannya.

"Seperti yang kupikir, apakah itu sulit dipercaya?"

Hajime bertanya sambil tersenyum masam.

"Itu, tentu saja. Tou-san dan juga Kaa-san, karena pekerjaan kita, kita memiliki banyak pengetahuan tentang hal seperti itu tapi......berpikir, itu benar-benar terjadi......"

"Benar. Tapi, dengan memikirkan hilangnya kelompok yang sangat tidak wajar, kita tidak bisa benar-benar menolak bahwa itu mungkin benar. Tidak ada alasan bagi Hajime untuk berbohong dalam situasi ini. Karena itulah, kekhawatiran kami adalah, kemungkinan seseorang membuat Hajime percaya hal semacam itu."

"Haha, memang, cara berpikir itu jauh lebih realistis. Aku juga, kalau aku berada di posisi Tou-san dan Kaa-san, pastinya aku juga akan memikirkan itu pada awalnya."

Diculik oleh orang-orang yang tidak dikenal, dan kemudian kelompok itu dicuci otak dan diberi kenangan akan omong kosong fantastis yang dimasukkan ke dalam otak mereka......tentu, daripada percaya bahwa dia akan pergi ke dunia lain dan berperang melawan monster dan dewa di sana, penjelasan itu terdengar lebih banyak. masuk akal. Alih-alih mereka tidak mempercayai kata-kata putra mereka, lebih dari itu mereka berpikir secara realistis dengan khawatir bahwa jika hal itu benar-benar dilakukan pada putra mereka maka mereka perlu memberinya perawatan dengan cepat.

Senyum masam Hajime memperdalam mereka berdua yang mengkhawatirkannya, lalu dia membuka mulutnya karena ada sesuatu yang harus dia pastikan bagaimana pun juga.

"Tou-san, Kaa-san. Entah apa yang kukatakan adalah kebenaran atau bukan, ada metode untuk membuktikannya. Itu sebabnya, dengan asumsi sekarang apa yang kukatakan adalah kebenaran, aku ingin bertanya sesuatu. ......Mengenai hal-hal yang telah kulakukan, apa yang kalian pikirkan? Tidak, apa pendapat kalian tentang saat ini?"

Itulah pertanyaan yang paling ditakuti Hajime dari kedalaman hatinya. Jika orangtuanya mengalami kekecewaan dan ketakutan, dihindari dan jijik ke arahnya maka......seperti yang diharapkan, itu akan sulit baginya. Tentunya jika itu terjadi, Hajime akan keluar rumah, dan kemudian dia akan melompat ke dada kekasih tercintanya.

Tapi, berbeda dengan kegelisahan dan kegugupan di dalam hati Hajime, seakan mereka telah menebak kekhawatiran di hati Hajime, Shuu dan Sumire menunjukkan senyuman yang tampak bermasalah, atau mungkin jengkel.

"Lihat sini, Hajime. Aku dan Sumire, kita bukan orang suci, tahu?"

"Eh?"

Shuu dan Sumire berdiri dari tempat duduk mereka dan mendekat ke sisi Hajime yang merasa bingung.

"Daripada kematian orang lain, keamanan anak kita jauh lebih penting. Mungkin kau menganggapnya berhati dingin, tapi itulah yang disebut orangtua. Astaga, karena kau merasa gugup......aku bertanya-tanya apakah kau sedang memikirkan sesuatu seperti itu, mungkin aku akan diusir dari rumah? Sungguh, idiot sekali dirimu."

"Tapi......Kaa-san. Memang, aku membunuh karena memang perlu, tapi aku sama sekali tidak ragu dalam membunuh. Itu adalah berapa banyak aku berubah. Seorang pria yang bahkan tidak menahan penghindaran atau jijik untuk membunuh, dapatkah kalian menerima seseorang seperti itu?"

Betapa putus asa, Sumire yang sedang menggaruk kepalanya seakan mengatakan bahwa jawabannya dikembalikan oleh Hajime dengan ekspresi yang hilang karena kata-kata. Mendengar jawaban itu, Shuu membuka mulutnya dengan putus asa untuk kali ini.

"Ini bukan tentang menerima atau tidak, kita adalah keluarga, tahu? Sesuatu seperti menghentikan keluarga tidak ada di keluarga Nagumo. Bukannya kau tahu? Tidak ada yang bisa membuatmu berhenti menjadi anakku. Hasil akhirnya adalah, [Kau tidak bisa lari dari Otou-sama!]"

"Tidak, jangan membuat kutipan pada saat seperti ini......"

"Hahaha, baiklah, mengesampingan hal itu..Hajime adalah anakku, dan aku adalah seorang Ayah. Selama hal itu benar, maka aku dan Sumire akan menjadi sekutumu kapan saja. Tidak ada orang yang bisa mengkhawatirkan orang lain sementara kelangsungan hidup anak mereka terancam. Juga, kalau kau merasa bersalah, kalau kau mengatakan bahwa kau ingin menebus keluarga almarhum maka aku akan menebusnya bersamaan denganmu, dan meski kau menjadi pembunuh psikopat maka aku akan mempertaruhkan tubuh dan kehidupanku. untuk menghentikanmu."

Kemungkinan besar, jika dipikir dari sudut pandang akal sehat maka cara Shuu dan Sumire melakukan hal itu keliru. Sebagai orangtua, tidak peduli keadaan apa pun, mereka harus mempertanyakan tentang benar dan salahnya si pembunuh. Dan jika itu adalah sesuatu yang tak termaafkan maka mereka harus menasehati orang tersebut. Sebagai orangtua, mereka harus menegur anak mereka tentang kesalahan mereka.

Dan pasti Shuu dan Sumire juga mengerti itu. tapi, meski dengan pemahaman itu, mereka tetap tidak diragukan lagi bahwa anak mereka kembali ke rumah dengan hidup bahkan dengan membunuh orang lain. Jika Hajime telah memutuskan untuk melakukannya, maka itu baik-baik saja, jika misalnya dia ingin menebus dosanya, maka mereka sebagai orangtua akan menemaninya, dan jika dia berakhir sebagai iblis, maka mereka akan mempertaruhkan nyawa mereka untuk membawanya kembali ke jalan yang benar. Mereka menyatakan bahwa itu jelas untuk Hajime.

"Hajime, apakah kau menyesali apa yang telah kau lakukan sampai sekarang?"

"Tidak, bahkan aku tidak sedikit pun menyesal. Bahkan aku tidak berpikir bahwa aku salah. Aku memutuskan untuk melakukan apa yang kulakukan dengan tekad melawan segala hal."

"Yap. Begitulah seharusnya. Tapi Hajime, cara melakukan itu tidak akan berhasil di Jepang?"

"Aku tahu. Perjalanan yang kumulai dengan tekad untuk membunuh semua orang yang membenciku sudah berakhir. Itu sebabnya, aku juga harus mengubah cara hidupku. Yah, setidaknya aku bisa melakukan sesuatu seperti menanam trauma pada orang-orang yang menghalangi jalanku."

"Aku mengerti, kalau begitu, itu tidak masalah. Meski hati Hajime telah tumbuh menjadi tidak segan dalam membunuh orang, penalaran dan emosi benar-benar ada di dalam Hajime. Lalu, tidak apa-apa. Sama seperti kata Shuu, kalau Hajime benar-benar melangkah ke jalur yang salah, kami akan membawamu kembali meski harus memukulmu, dan bertanggung jawab bersamamu."

"Kaa-san......"

Hajime berpikir, bahkan saat dia sudah mendapatkan kekuatan untuk bahkan membantai dewa, tapi seperti yang diharapkan, dia masih tidak setara dengan ayah dan ibunya. Dan kemudian, dia teringat putri tercinta yang dia dapatkan di dunia lain, dan dia sangat merasakan bagaimana dia masih kekurangan sebagai seorang ayah.

Shuu dan Sumire menepuk-nepuk Hajime yang menutup matanya dengan lembut. Jika mereka benar-benar melihat Hajime membunuh seseorang dengan mata kepala sendiri, tidak mungkin mereka tidak terguncang. Mungkin itu akan menjadi trauma bagi mereka. Mungkin mereka tidak bisa memberinya kata-kata mereka tanpa ragu seperti ini.

Meski begitu, satu hal yang bisa mereka katakan dengan pasti adalah, bahwa mereka takut pada Hajime, putra mereka, dan kemudian mereka menjauhkan diri karena itulah, satu-satunya hal yang tidak akan pernah mereka lakukan.

Perasaan itu tentu saja disampaikan pada Hajime. Karena itu, Hajime hanya bisa mengatakan satu hal.

"......terima kasih. Tou-san, Kaa-san."

Mata Shuu dan Sumire menyipitkan mata dengan pelan.

Sambil merasakan kehangatan dari orangtua, Hajime membuka matanya dan menunjukkan senyum lebar dan nakal pada mereka. Hatinya bersih sekali. Hajime memulihkan dirinya yang biasa karena penerimaan orangtuanya tentang dirinya yang telah berubah.

Dalam kasus ini, yang tersisa adalah laporan yang mana adalah laporan terpenting yang harus dia sampaikan kepada mereka. Ini juga akan menjadi bukti tentang dunia lain yang dia katakan pada mereka tadi, jadi itu akan menjadi dua burung dengan satu batu.

"Tou-san, Kaa-san. Apakah kau ingat, di masa lalu......tentang omong kosong tentang apa yang akan kulakukan kalau aku dipanggil ke dunia lain?"

"Hm? Ah, aku ingat. Kalau kau adalah seorang pria, maka dalam dunia pedang dan sihir, kau pasti ingin mengalahkan raja iblis dan membangun harem, itulah yang kukatakan, sementara Hajime, kupikir kau bilang [Kalau itu aku, rasanya aku tak bisa mengalahkan raja iblis sama sekali. Yang bisa kulakukan, yang terbaik adalah pulang ke rumah. Dan kalau aku menemukan seseorang yang penting bagiku di sana, maka aku akan kembali bersama mereka], kan?"

"Tou-san ingat itu dengan baik huh. Yah, begitulah adanya. Kurasa aku menyebutkannya sedikit dalam penjelasanku sebelumnya tapi......aku menemukan orang-orang penting di sana. Aku ingin mengenalkannya kepada kalian, jadi tidak apa-apa sekarang?"

"Sekarang? Sudah fajar, tahu? Atau lebih tepatnya, kau membuat pacar di sana!? Selanjutnya dari dunia lain? Tidak, tunggu, aku masih belum tahu apakah cerita tentang pemanggilan dunia lain itu benar atau tidak......"

"Be-Benar, kan? Sekaligus, orang itu mungkin yang menanamkan ingatan palsu pada Hajime.......Dan kemudian, orang itu akan mengatakan sesuatu seperti [Kalau kau ingin anakmu kembali normal, maka silakan beli vas suci ini. Jangan khawatir, kalau kau membelinya sekarang juga, aku akan memberikan diskon khusus lima puluh persen untuk vas jutaan yen ini, lho?]!"

Shuu yang mendengar khayalan liar dengan terengah-engah sambil Sumire yang waspada selalu segera bilang "Sumire, kau seorang jenius!?" sesuai persetujuan. Sambil tersenyum masam karena menyaksikan cintanya dianggap sebagai salesman bengkok, pandangan Hajime mengembara di udara kosong.

"......Yue, bisakah kau mendengarku? Ini aku."

"Oi, Sumire! Untuk suatu alasan Hajime sedang berbicara dengan udara kosong, lihat! Apa ini? Apa ini yang disebut sebagai pacar udara!? Apa yang harus kulakukan sebagai ayah seperti ini!?"

"Tenanglah sayang. Kami ceroboh......pasti mereka sudah menyiapkan alat pendengar di rumah kami! Setelah ini wanita yang akan menjual vas suci akan datang setelah dipanggil oleh Hajime, kau tahu!"

"Apa, itu? Bajingan, membuat anak lelakiku sebagai penjual vas bungamu...... jangan berpikir bahwa ini akan berakhir dengan baik untukmu. Dengan teknik tawar-menawar yang luar biasa, aku akan menurunkan harganya sampai di bawah lima puluh ribu yen!"

Shuu dan Sumire yang tidak mungkin mengerti bahwa Hajime yang tiba-tiba berbicara dengan udara kosong menggunakan "telepathy" terguncang hebat. Sumire berbicara secara aneh dengan asumsi yang realistis sementara Shuu menjadi sedikit panik dan menguatkan tekad. Dan kemudian, sebelum Hajime tahu itu, Yue telah menjadi gadis penjual vas suci.

Hajime melanjutkan telepati sambil melirik sekilas ke orangtua semacam itu.

"Yeah, tidak apa-apa.......Yeah, aku sudah membicarakan inti kejadiannya. Aku ingin segera mengenalkan kalian semua dengan cepat. ……Betul. Kau tahu koordinatnya, kan? Ya, lalu buka pintu gerbang dan langsung ke sini. Ada di......mari kita lihat, buka sekitar satu meter dari timurku."

Sebenarnya, saat ini Yue sedang berada di gedung sekolah yang dihadiri Hajime sebelumnya. Ketika mereka kembali ke Bumi dari Tortus, Hajime membuat atap gedung sekolah sebagai tempat pintu gerbang dibuka. Dari tempat itu, mudah baginya untuk membayangkan posisi rumahnya, dan meski mereka tiba sore hari, biasanya atap itu terkunci dan orang-orang dilarang masuk ke sana, lokasinya juga berada di luar tatapan publik. Tempat itu nyaman digunakan.

Dan kemudian, setelah teman sekelas kembali ke rumah mereka masing-masing, Yue dan yang lainnya mengusulkan untuk tinggal di sekolah tersebut. Jadi mereka tidak akan menghalangi reuni Hajime dengan orangtuanya.

Tentu, Shuu dan Sumire yang tidak tahu tentang keadaan itu hanya bisa saling berhadapan dalam ketakutan akan putra mereka yang terus berbicara ke udara kosong— mereka langsung menegang saat itu.

Dengan distorsi, ruang yang tepat di samping Hajime tiba-tiba membentuk pusaran, dan kemudian membentuk bentuk elips sesaat setelah itu, dan kemudian beberapa saat kemudian pemandangan yang familier— tempat yang sepertinya merupakan kelas di sebuah sekolah dapat dilihat.

"P-Pintu ke ma** saja?"

TLN: Referensi pintu ke mana saja dari Doraemon

"E, eh? Tung–, ini terlalu fantasi tiba-tiba!"

Sementara Shuu dan Sumire sangat bingung, wajah Yue mengintip keluar dengan sebuah plop dari dalam gerbang. Mata merah itu berkeliaran di ruangan itu dengan minat yang dalam, lalu mata itu menyipit dengan sukacita saat mereka menatap Shuu dan Sumire, pada akhirnya mata itu beralih ke Hajime dan tanpa kata-kata, bertanya "Tidak apa-apa untuk masuk?"

" Selamat datang, ke rumah keluarga Nagumo. Masuk saja."

"......Nn"

Dengan kata-kata sambutan Hajime, Yue masuk secara perlahan ke rumah Nagumo. Lubang ruang yang tiba-tiba dibuka di dalam ruangan, dan gadis cantik yang seperti awakened bisque doll muncul dari sana menyebabkan Shuu dan Sumire membuka dan menutup mulut mereka tanpa kata-kata dalam kekacauan yang nyata.

Hajime berdiri di samping Yue, dan sambil menyeringai nakal seperti anak kecil yang berhasil dalam leluconnya, dia mengenalkan kekasihnya tercinta.

"Tou-san, Kaa-san. Namanya Yue. Dia adalah orang istimewaku. Omong-omong, dia adalah orang dunia lain, vampir, dan mantan putri."

"" –, atribut klise!?""

Shuu dan Sumire membalas sebuah respon yang tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang biasa dengan sangat baik. Di dalam hatinya, Yue merasakan perasaan yang hangat dan lembut, "Aa, mereka benar-benar orangtua Hajime" sementara pada saat bersamaan, merasa sedikit gugup dalam acara penting di mana dia menyapa orangtua kekasihnya, dia mencubit tepi roknya, dan menunjukkan sikap sopan santun yang melimpah dengan keanggunan dan kecantikan.

"......apa kabar, Otou-sama, Okaa-sama Hajime. Silakan panggil aku Yue. Tolong urus aku selama bertahun-tahun yang akan datang."

"E, o, ou. Tidak, aku harus sopan di sini. Tolong urus aku juga?"

"To-Tolong urus aku?"

Kejutan dari menyaksikan gadis berambut pirang bermata crimson yang terlihat seperti dia keluar dari buku bergambar, dan juga ini menjadi pendahuluan untuk kekasih anak mereka untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, menyebabkan akhir kalimat mereka berubah menjadi aneh. Sosok orangtuanya menurunkan kepala mereka berulang-ulang dan secara tak acuh memperdalam senyum Hajime, bagaimanapun, seolah mengatakan bahwa "Ini tidak akan berakhir dengan hanya sebanyak ini, ya!" Dia membuka mulutnya sekali lagi.

"Shea, tidak apa-apa sekarang!"

"Hai! Tou-sama, Kaa-sama, namaku Shea! Tolong urus akuuu!"

TLN: Kaa-sama dan Tou-sama disini menggunakan kanji untuk mertua

""Telinga kelinciii, itu datang—!?""

Shea melompat keluar dari pintu gerbang sambil tersenyum lebar sementara telinga kelincinya bergerak. Shuu dan Sumire menunjukkan reaksi harmonis yang luar biasa terhadap penampilan gadis cantik kedua ini. Tanpa ada keraguan untuk membalasnya, mata mereka terpaku pada telinga kelinci yang bergerak di sekitar.

"Tio, ayo!"

"Uh huh. Ini adalah pertemuan pertama kami, Chichiue-dono, Hahaue-dono. Aku adalah Tio Clarce dari ras naga, selir Goshujin-sama, dan juga budak seksnya. Tolong urus aku selamanya dari sini."

""Budak seks!?""

Dengan bukit kembar yang sepertinya akan tumpah kapan saja, dan sayap naga menyebar dan mengepak di belakangnya untuk bisa mengungkapkan bentuk aslinya, Tio membuat sapaan yang relatif tidak bagus. Mendengar hal itu menyebabkan Shuu dan Sumire terhuyung secara spontan. Tampak bahwa perkembangan mengejutkan yang mengejutkan membuat kaki mereka tidak stabil.

"Remia, Myuu!"

"Ya sayang. Senang bertemu denganmu, namaku Remia. Tolong urus aku, bersama dengan putriku."

" E, err, err...... aku, aku putri Papa, Myuu! Ojii-chan, Obaa-chan, tolong urus aku!"

"O, Ojii-chan!?"

"Pu-Putriiiii!?"

Wanita cantik yang menundukkan kepalanya dengan sopan dengan penampilan anggun, dan Myuu kecil yang memberinya semua ucapan. Shuu dan Sumire akhirnya lumpuh dari kata-kata menakjubkan Myuu. Dan kemudian, *gigigi* tatapan mereka bergerak menuju Hajime seperti mesin yang lupa diminyaki.

Mata mereka berbicara dengan perasaan mereka lebih fasih dari apa pun. Artinya, "Jelaskan apa arti dari ini!"

Karena itu, Hajime menjawab ringkas.

"Myuu adalah putriku, dan yang lainnya adalah istriku. Baiklah, tolong urus mereka baik-baik."

""Santai sekali!?""

"Ah, omong-omong, ada empat istri lagi, jadi aku minta mereka memberi salam di lain hari."

""Harem beneraaaan!?""

Seperti yang diharapkan, keduanya menyatu dengan indah dalam reaksi yang indah.

Dan kemudian, hati orangtua yang tak tergoyahkan bahkan ketika anak lelaki mereka mengaku sebagai pembunuh menjadi "Kau, apa kau benar-benar anakku!? (Shuu)" dan "Kau, apa kau benar-benar anakku? (Sumire)" dengan sangat pergolakan dan bingung, dan kemudian tiba-tiba Shuu berkata "aku mengungkapkan triknya! " dan berteriak, "Tidak, tunggu, Sumire! Tidak mungkin gadis lucu ini asli! Semuanya adalah CG! Jangan tertipu!", Mendengar itu Sumire berteriak "Sayang, kau adalah seorang jenius! Hajime, buka matamu! Meskipun gadis 2D diubah menjadi 3D, pada akhirnya mereka hanya gambar palsu. Itu hanya akan berakhir dengan sia-sia!" dengan ekspresi sedih......

Lagi pula, ruangan itu sudah menjadi sebuah kekacauan besar.

Namun, kerusuhan itu pun tidak berlanjut lama.

Itu karena Myuu yang merasa bahwa mereka tidak disambut dari keadaan kedua orangtua itu tertekan, lalu dia bertanya "Ojii-chan, Obaa-chan......apakah Myuu tidak baik?" .Hasil dari itu tidak usah dikatakan lagi.

"Apa kabar, aku adalah Ojii-chan Myuu, lho?"

"Apa kabar, aku adalah Obaa-chan Myuu, lho?"

Mereka benar-benar bangkit kembali dalam sekejap. Sosok mereka yang tersingkir tak berdaya oleh kecantikan Myuu yang licik sama persis seperti Hajime seperti yang diharapkan.

Seperti itu, setelah mereka berhasil bangkit, melihat fenomena fantasi yang terjadi di depan mata mereka dan gadis cantik yang bukan manusia, kedua orang yang sejak awal memiliki daya tahan tinggi terhadap hal semacam ini. Dengan sifat pekerjaan mereka segera memastikan kebenaran kata-kata Hajime.

Setelah itu, terjadi keributan besar 'hip hip hore'. Hal ini sangat nyata dan apa yang dialami anak mereka, dan harem sesungguhnya dari gadis-gadis cantik......jiwa otaku mereka memakannya dengan penuh semangat sebelum mereka melemparkan rentetan pertanyaan kepada Hajime dan yang lainnya dengan mata bersinar cerah.

Saat Tio menggunakan sihir regenerasi untuk mengeluarkan rekaman gambar pertempuran Hajime yang dia rekam, suara aneh bergema di area pemukiman pada pagi hari. "UoOOOOOO-, MENGAGUMKAAAAAAAN! Tahukah kau, tahukah kau huuuh!? Itu, itu anakku! Terima kasih banyak!" atau, "KyaAAAA–, kau dengar itu!? Tadi, dia mengatakan sesuatu yang menakjubkan! Gawat! Anak ini, sungguh raja iblis-sama! Dan kemudian, raja iblis-sama adalah anakku! Terima kasih banyak!" dan seterusnya, mungkin karena keduanya juga menginap semalaman tanpa tidur, ketegangan mereka terus meningkat dan bangkit, akhirnya mereka berdua terus membuat keributan sampai Hajime yang tidak mampu menanggung rasa malu membuat mereka 'abababa' menggunakan Lightning Field.

"......Nn. Seperti yang diharapkan, dari Otou-sama dan Okaa-sama Hajime. Mereka benar-benar tidak biasa."

"Tentu, rasanya mereka benar-benar orangtua Hajime-san seperti ini."

"Bahkan bisa dikatakan, bahwa ini wajar bagi Chichiue-dono dan Hahaue-dono dari Goshujin-sama."

"Ufufu, mereka mirip dengan Haijme-san, sosok yang unik."

"Yep–, Papa, sangat mirip Ojii-chan dan Obaa-chan!"

Yue dan yang lainnya mengucapkan kesan mereka sambil melongo menatap Shuu dan Sumire yang pingsan dengan senyum lebar.

Atas kesan itu, Hajime mengatakan sebuah kalimat.

"Apa maksudmu dengan itu?"

Ekspresi Hajime terdiam.

Shuu dan Sumire yang kembali dari kenangan mereka berseru lebar kepada keluarga anak mereka yang sedang menggoda dan bermain-main dalam suasana di meja makan pagi.

"Itu mengingatkanku, Hajime. Kau akan bertemu dengan Kaori-chan dan yang lainnya hari ini, kan? Kau tidak akan terlambat?"

"Aa~, itu nanti siang, jadi tidak ada masalah."

"Shizuku-chan juga akan datang, kan? Bagaimana dengan Ai-chan?"

"Sepertinya Shizuku akan datang bersama Kaori, tapi Aiko, kupikir dia bisa datang, tapi mungkin dia akan terlambat. Dia memiliki pekerjaannya dan juga posisinya."

Hajime mengangkat bahu, sementara Sumire menurunkan alisnya dengan simpati sambil berpikir "Ai-chan juga sulit melakukannya."

Hari ini Hajime punya rencana makan malam bersama semua orang, termasuk Kaori dan yang lainnya juga. Teman sekelas juga ikut serta, jadi akan seperti reuni kelas orang-orang yang dipanggil ke dunia alternatif. Meski saat ini semuanya masih pelajar aktif, nuansa pun sedikit berbeda.

" Oi, Hajime. Beritahu Kaori-chan dan yang lainnya untuk menunjukkan wajah mereka di sini lebih sering. Soal menantu yang cantik, semakin baik."

"Benar. Atau lebih tepatnya, jika rekonstruksi rumah selesai, tidak apa-apa bagi mereka untuk tinggal di sini, lho? Bukankah itu yang terbaik jika rumah itu hidup dan meriah?"

"......Gadis-gadis itu sendiri tidak terlalu keberatan......tapi sepertinya mereka biasanya akan datang, tapi keluarga mereka sepertinya tidak setuju. Yah, itu keputusan yang masuk akal."

Di ujung pikirannya, Hajime ingat saat bertemu keluarga Kaori dan Shizuku sambil mengangkat bahu.

"Hmm, itu ya. Yah, katakan saja kepada mereka bahwa Kaa-san akan menyambut mereka kapan saja. Juga......fufu. aku tidak keberatan kalau kau akan menginap malam ini?"

"Debauch party eh! Sungguh anak yang menakutkan meskipun putraku."

"Berisik. Sudah kukatakan bahwa aku akan pulang dengan normal. Sungguh, Tou-san dan Kaa-san sudah......"

Ekspresi Hajime tampak agak lelah sejak pagi. Para istri dari dunia lain menyaksikan pertukaran antara orangtua dan anak dengan tersenyum.

Apa yang terbentang di depan mata mereka, pastinya merupakan kehidupan sehari-hari keluarga yang damai dan lembut.



AN: Terima kasih banyak telah membaca ini setiap saat.

Terima kasih juga atas pemikiran, opini, dan laporan tentang kesalahan ejaan dan kata-kata yang hilang.

Kupikir bab selanjutnya, aku akan mencoba menulis tentang berkeliaran di sekitar kota bersama para istri.

Tampaknya cerita itu menghangatkan hati tanpa banyak perkembangan akan berlanjut, tapi aku juga ingin menulis extra story yang panjang sebelum lama ini, jadi aku akan senang jika kalian semua bisa membaca sambil merasakan perasaan menghangatkan hati.

......Jika Shirakome memiliki lebih banyak waktu......kehidupan nyata, dasar bajingan......

Update berikutnya direncanakan pada pukul 6 sore hari Sabtu minggu depan juga.
Arifureta After 2

Diposkan Oleh: setiakun

0 Komentar:

Post a Comment